^Detik Terakhir^ (Repost)
Pagi ini, tidak ubahnya seperti pagi-pagi yang telah lalu. Awan terangkai dengan warna birunya yang sempurna, dan kicauan burung yang saling bersautan bagai musik alam pengiring hari.
Bangunan sekolah yang di dominasi oleh warna coklat itu masih sepi. Disalah satu ruang kelas, baru terdapat seorang siswi yang sibuk membaca buku catatannya. Tanpa mempedulikan suasana sepi di sekitarnya, ia terus membaca, entahlah apa yang dibacanya.
“Hai..pagi..” Sapa seorang anak laki-laki bertubuh tinggi, putih, Gadis itu hanya mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya.
“Baca apa ?”
“Biologi” Jawabnya tanpa senyum, terkesan dingin, jutek dan singkat.
“Oh.. rajin ya loe, pantes selalu juara kelas. Hehe.. ya udah deh gue mau ke lapangan bola dulu, semangat ya belajarnya”
lagi-lagi laki-laki itu selalu ramah seperti biasanya. Dia tersenyum ke arah gadis manis berkacamata itu, kemudian berlalu keluar kelas, meninggalkan gadis itu, sendiri dalam dunianya.
Tepat saat laki-laki itu beranjak pergi, gadis itu mengangkat wajahnya, menatap teman sekelasnya itu sekilas, senyum tipis terpulas di wajahnya, lalu ia mulai menekuni bukunya kembali.
*
Suasana riuh rendah selalu tercipta saat anak-anak futsal berlatih, seperti yang terjadi siang ini. Penonton yang rata-rata di dominasi oleh kaum hawa tersebut, sibuk meneriakkan semangat mereka untuk duo futsal yang memang menjadi idola mereka.
“Kesana yuk, gue mau nonton Bayu"
“Enggak ah Al"
Alya memberikan pandangan memohon kepada temannya yang satu ini.
“Ayolah Yas...”
Yasmin yang masih saja sembunyi di balik bukunya, menatap Alya sejenak dari balik kacamatanya, dan kemudian menggeleng. Alya pasrah, ia memang tidak pernah berhasil untuk membujuk Yasmin beralih sebentar dari dunianya itu.
“Ya udah deh gue kesana ya, mau nyusulin Bayu,, hehe..”
Yasmin hanya mengangguk.
3 jam Kemudian.
Tepat setelah membaca halaman terakhir, Yasmin langsung menutup buku yang tebalnya bisa membuat orang pingsan sekali pukul itu dan melirik jam tangan putih polos di tangannya. Keasikkan membaca lagi-lagi membuatnya lupa waktu. Sekolah telah benar-benar sepi sekarang.
Yasmin melirik ke arah lapangan futsal yang nampak kosong. Dengan memeluk buku-bukunya dan menyandang tasnya, ia mulai berjalan menuju gerbang sekolah.
“Argh..”
Yasmin menghentikan langkahnya. Suasana yang begitu senyap, membuat sensitivitas pendengarannya semakin peka. Dia melihat ke arah kanan kirinya, dan tidak nampak satupun aktivitas yang terjadi.
“Perasaan gue doang kali yah” gumam Yasmin pelan, kemudian memutuskan untuk kembali berjalan.
“Argh..”
baru satu langkah Yasmin berjalan, suara yg terdengar seperti erangan itu mampir lagi ke telinganya, dan Yasmin yakin kali ini, bahwa suara itu nyata, bukan hanya perasaannya saja. Yasmin mendekat ke arah lapangan futsal, karena ia menyakini suara itu muncul dari sana.
Tidak ada satupun rasa takut yang merasukinya, yang ada ia malah penasaran dengan suara itu. Yasmin menajamkan pendengarannya, layaknya seorang agen mata-mata, Yasmin mengendap-ngendap di dinding menuju ruang ganti pemain.
“Hah... hah... hah..” kali ini, suara rintihan itu berganti dengan suara napas yang tidak beraturan. Yasmin semakin yakin, suara itu berasal dari dalam ruang ganti pemain. Sepelan mungkin, Yasmin masuk ke dalam ruangan tersebut dan alangkah terkejutnya dia melihat pemandangan di depannya.
“Reno??”
“Hah.. o-obat.. gue.. to-long..”
Yasmin meletakkan buku-buku di pegangannya secara asal, kemudian ia mulai mengobrak-abrik tas Reno, mencari obat yang Reno maksud. Yasmin langsung mengangsurkan sebutir pil dan sebotol air mineral untuk Reno.
“Thanks..” ujar Reno lemah sembari berusaha tersenyum. Ia mencoba bersandar di dinding. Wajahnya yang putih nampak memerah, keringat membasahi tubuhnya, napasnya masih terdengar terengah-engah.
Sementara Yasmin masih bersimpuh di samping Reno. Tangannya memegang botol obat yang tadi ia temukan dalam tas Reno. Dalam diam ia mengamati obat tersebut, Yasmin mengenal betul obat ini, obat yang selalu ada di ruang kerja kakaknya.
“Elo?” tanya Yasmin dengan nada tak percaya.
“iya,, gue mohonjangan bilang ini ke siapapun”
Reno tersenyum lagi ke arah Yasmin. Yasmin memandangnya bingung, ia tampak santai, sangat kontras dgn keadaannya beberapa menit yg lalu.
“Bukan urusan gue juga sih” jawab Yasmin cuek.
“Gue anterin pulang yuk” tawar Reno sembari membereskan tasnya yang isinya baru saja Yasmin keluarkan semua.
“gak usah gue bisa sendiri”
Reno menatap Yasmin sekilas.
“Tenang aja, gue masih bisa bawa motor gue kok. Mau yah, sebagai ucapan terimakasih dari gue nih"
Yasmin menimbang-nimbang sebentar, ia melirik jam tangannya, sudah pukul 5 sore. Akhirnya Yasmin mengangguk ke arah Reno kemudian ia berdiri, tapi tiba-tiba tangannya di tarik oleh Reno.
“Apa lagi ?” tanya Yasmin,
“Itu obat gue, tanpa itu gue gak bisa hidup Yas,, hehe..”
Yasmin melihat botol putih bening yang masih ada dalam genggaman tangannya itu. Dengan sedikit senyum, ia menyerahkannya ke Reno.
“Loe tahu, senyum loe akan kelihatan lebih tulus kalo lebih banyak sedikit” bisik Reno. lagi-lagi Reno tersenyum ke arah Yasmin.
Yasmin hanya diam tanpa ekspresi, meski kata-kata tadi terdengar lembut di telinganya.
*
Kamar itu begitu hening, seperti biasa. Hanya ada sedikit suara, dari pertemuan antara pulpen dan kertas yang beradu sejak tadi. Yasmin diam sejenak. Dia meletakkan pulpennya, entah kenapa malam ini, ia jadi kepikiran soal Reno. Ia sama sekali tidak menyangka, temannya yang begitu aktif dan ramah itu menyimpan sebuah rahasia besar dalam hidupnya.
Dagunya ia tumpukkan di kedua tangannya yang saling bertindihan di atas meja belajarnya. Yasmin telah mengenal Reno sejak mereka sama-sama sekelas waktu kelas sepuluh dan berlanjut hingga kelas sebelas sekarang. Di matanya Reno adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Penampilannya yang selalu rapi di tunjang dengan wajahnya yang tampan membuat ia di kagumi oleh hampir seluruh anak perempuan di sekolahnya. Otaknya pun cerdas dan menjadi pesaing utamanya dalam memperebutkan juara kelas.
Belum lagi prestasinya dalam bidang olahraga, bersama sahabatnya Bayu, ia selalu berhasil memimpin rekan-rekan setimnya untuk menjuarai berbagai lomba futsal yang mereka ikuti.
“Anak seaktif dan seramah dia ternyata....”
“Aduh Yasmin loe kenapa jadi mikirin dia sih!! lupain.. lupain.. ayo sekarang belajar lagi"
Yasmin memukul-mukul kepalanya sendiri pelan, kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
***
Dengan langkah gontai, Reno berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Seperti biasa, ia tetap tersenyum ramah, kepada siapapun yang ia lewati, entah itu dokter, suster atau pasien, entah ia kenal ataupun tidak, senyum itu tetap menghiasi wajahnya. Meski hatinya sedang rapuh luar biasa.
Langkahnya terhenti di depan taman rumah sakit. Matanya menatap lurus ke arah sosok yang dikenalnya. Sembari tersenyum, Reno menghampiri orang itu yang nampak sedang serius dengan buku di tangannya.
“Hai,, Yas,, gue boleh duduk yah??” sapa Reno riang.
Yasmin mengangkat wajahnya, kemudian ia hanya mengangguk.
“Ngapain disini ?” tanya Reno basa-basi. Tapi tidak ada satupun respon dari Yasmin. Reno hanya tersenyum, ia mengamati Yasmin yang dimana saja, selalu setia bersama buku-bukunya.
“Gue kagum deh sama loe setiap hari selalu baca buku gak pernah bosen, good job” celoteh Reno,, meski ia tahu Yasmin tidak akan menggubrisnya sama sekali.
Karena itulah Yasmin, sosok anak jenius yang memakai kaca mata dan selalu membawa buku kemanapun ia pergi. Pendiam dan jutek. Pembawaannya cenderung tertutup. Jarang tersenyum apalagi tertawa.
“Maaf Yas, udah nunggu lama ya? Hlo?? Reno?”
“Dokter Alex??”
“Kamu kenal sama Yasmin??”
“Iya, saya temen sekelasnya dok”
“Saya kakaknya Yasmin"
Reno hanya tersenyum seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ya udah ayo katanya mau makan siang” ujar Yasmin tiba-tiba, seraya berdiri dan berjalan.
“Kamu udah makan Ren?? kalo belum ayo ikut kita aja” tawar dokter Alex.
“Ehh gak usah dok makasih.. saya.. emm.. itu..” Reno kelabakan sendiri mencari alasan apa.
“Udah ayo, saya tau kamu gak punya alasan buat nolak”
Reno hanya bisa cengengesan.
kemudian ia bersama Alex, menyusul Yasmin yang telah berjalan cepat menuju parkiran.
“Udah lama Ren kenal Yasmin??”
“Iya dok, kita sekelas dari kelas sepuluh dulu” jelas Reno. Sementara Yasmin memilih utk diam,
“Oh, Yasmin jarang cerita sih, saya malah cuma kenal temennya yang namanya Alya,,”
“Iya, Yasmin memang sahabatan sama Alya, kebetulan Alya itu pacarnya sahabat saya. hehe..”
“Toilet” celetuk Yasmin seraya berlalu begitu saja.
“Maaf ya Ren,, Yasmin memang seperti itu, tertutup..”
“Gpp dok, saya tau kok. Saya gak nyangka lho, dokter sama Yasmin kakak adek, soalnya beda sih” dokter Alex hanya tertawa mendengar kata-kata Reno.
“Saya sama dia beda sepuluh tahun, itu sebabnya walaupun saya sayang banget sama dia, tapi susah buat ngeleburin jarak yang ada, apalagi semenjak...”
“Semenjak apa dok ?” Tanya Reno penasaran.
“Kedua orang tua kami meninggal”
Reno tersentak kaget.
“Maaf dok, saya enggak tau”
Dokter Alex hanya tersenyum.
“No problem.. dulu Yasmin adalah gadis yg periang, tapi semenjak saat itu, dia tenggelam di balik bukunya, saya saja sampai bingung sendiri mau mendekati dia dari mana. Seandainya ada orang yang bisa merubah dia lagi kaya dulu”
entah kenapa, kalimat terakhir yang dokter Alex katakan, begitu merasuk kuat di dalam hati Reno, kata-kata itu bagai memanggilnya.
***
Belum pernah terjadi sebelumnya, hari ini seorang Yasmin mau menemani Alya untuk menyaksikan latihan futsal. Meski di tangannya tetap ada buku, tapi diam-diam tanpa sepengetahuan Alta, Yasmin terus mencuri pandang ke arah Reno, satu hal yang membuatnya bingung sendiri.
‘loe ngeliatin dia karena cuma loe yang tahu keadaannya dia.. cuma karena itu Yasmin,,’ batinnya seolah-olah berusaha menenangkan hatinya yang sibuk bertanya-tanya.
Yasmin bisa melihat Reno yang terus berlari, tanpa beban, bebas, dan penuh keyakinan.
Sempat membuat Yasmin tak percaya apakah keadaan Reno yang ia ketahui hanya kedok belaka, tapi lantas pikiran itu ia buang jauh-jauh. Setiap setelah melakukan tendangan Reno akan menoleh ke arah penggemarnya dan tersenyum, yang tentu saja langsung membuat kehebohan yang tak terkira di lapangan.
“Loe ngeliatin apa sih Yas??” tanya Alya curiga.
“Buku” jawab Yasmin asal, sembari kembali menekuni bukunya. Alya memandang Yasmin penuh curiga,, entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, tadi ia merasa Yasmin sedang memperhatikan Reno. Tak mau ambil pusing, Alya kembali memfokuskan perhatiannya untuk Bayu.
***
Entahlah apa yang membuat mereka bisa duduk berdua sekarang. Alasan pertama yang paling logis tentu saja, karena mereka berdua satu kelompok dalam pembuatan karya ilmiah, tapi alasan-alasan lainnya cukup membuat Yasmin tidak mengerti, karena ini pertama kalinya ia menyetujui untuk membuat tugas kelompok bersama-sama, sebelumnya Yasmin selalu mengerjakan tugas itu sendiri, meski judulnya tugas kelompok.
Dan sekarang mereka duduk di halaman belakang rumah Yasmin, hening. Di awal Reno sempat mencoba mencairkan suasana, tapi karena Yasmin yang terus sibuk dengan laptop dan buku-bukunya, kini Reno pun ikut tenggelam mengerjakan bagiannya. Dan lagi-lagi entah kenapa, Yasmin merasa sedikit menyesal dgn sikapnya tadi.
“Titt.. titt.. titt..”
Yasmin celingukan mencari asal suara, yg membuat Reno tersenyum dan menunjukkan jam tangannya yg menyala. Reno meraih tasnya, dan mengeluarkan botol obatnya, lantas ia langsung meminum obatnya tersebut.
“Sorry kalo bikin loe kaget, gue suka lupa kalo gak kaya gitu” ujar Reno.
“Gue malah mikir elo lupa kalo loe lagi sakit”
Reno terkekeh mendengar kata-kata Yasmin.
“Kenapa?”
“Ya, elo selalu bersemangat setiap hari, dan saat main futsal, itu jelas-jelas ngebahayain kondisi loe”
“Loe mau tau kenapa ?”
Yasmin hanya berekspresi datar tanpa respon.
“Karena gue tau, hidup gue mungkin akan jauh lebih singkat dari temen-temen gue, jadi dari pada gue ngeratapin nasib, ya mending gue nikmatin ajja akhir-akhir hidup gue” Reno melanjutkan menjawab pertanyaannya sendiri, meski Yasmin tidak memintanya. Yasmin terdiam sejenak mencerna kata-kata Reno,, entah kenapa kata-kata itu seperti menyentil batinnya.
“Oh ya loe masih nyimpen rahasia ini sendiri kan?” tanya Reno lagi. Yasmin hanya mengangguk.
“Good job ! thanks ya Yas...”
Yasmin bisa melihat jelas, ketulusan terpancar dari kata-kata Reno. Ia mengalihkan matanya kearah Reno,, Reno yang sadar sedang diperhatikan oleh Yasmin, lalu menoleh ke arah Yasmin, hingga pandangan mereka bertemu.
“Eh sorry,,” ucap Reno. Yasmin hanya menundukkan kepalanya, ia terbawa suasana, suasana nyaman dan hangat dari mata Reno.
“Gpp,,” sahut Yasmin seraya membetulkan letak kacamatanya.
“Loe minus Yas??”
Yasmin menggeleng.
“Plus?”
Lagi-lagi Yasmin menggeleng.
“Ohh silindris yah??” tebak Reno mantap.
“Enggak juga kok”
Reno memandang ke arah Yasmin kaget.
“Terus ngapain pake kacamata kalo gitu?”
“Pengen aja”
“Haha.. gue suka gaya loe"
Reno malah memuji Yasmin seraya memberi bonus senyuman. lagi-lagi Yasmin dibuat spechless, dia berpikir Reno akan mentertawakan jawabannya yang asal tapi asli tersebut. Reno memang berbeda.
“Gue pengen bisa ramah kaya loe” ujar Yasmin tiba-tiba, ia sendiri kaget, kata-kata itu meluncur tanpa kendali dari bibirnya. Reno menghadap ke arahnya, sembari tersenyum.
“Gampang Yas,, loe tinggal senyum setulus mungkin dari dalem sini” Reno menunjuk dadanya.
“Gue lupa caranya tersenyum semenjak...”
“Iya gue tau, kakak loe udah sempet ceritain itu” potong Reno cepat.
“Gue kangen mereka”
Yasmin menunduk seraya menggigit bagian bawah bibirnya, setitik air mata menetes membasahi wajahnya. Dengan tangannya Reno menyentuh dagu Yasmin, hingga membuatnya terangkat.
Pelan-pelan, Reno melepas kacamata Yasmin, dan dgn ujung-ujung jarinya, ia menghapus air mata Yasmin.
“Loe tau, mata bening loe lebih indah tanpa hiasan bingkai kaca mata di sekelilingnya, dan senyuman loe bakal bikin siapapun terpesona melihatnya” ujar Reno yg mampu membuat Yasmin tersipu. Tapi mungkin Reno benar, karena saat ini, saat senyumnya hadir, hatinya pun merasa bahagia.
“Jadi mulai sekarang, loe harus sering-sering senyum yah”
Reno mengacak-acak rambut Yasmin. Yasmin hanya terdiam, tapi kali ini diamnya berbeda, ada senyum manis di bibirnya yg menyatakan segalanya.
***
Sudah lama mereka tidak pernah berdua lagi seperti ini. Tepatnya sejak Bayu jadian dgn Alya. Tapi Reno maklum akan hal itu. Toh akhir-akhir ini, dia juga sering menghabiskan waktunya bersama Yasmin.
“Gimana loe sama Alya?”
“Gitu deh, tambah hari tambah sayang aja gue sama dia”
Reno hanya terkekeh mendengarnya. Kemudian ia mengambil majalah Bayu yang ada di atas kasur dan mulai membacanya.
“Loe sendiri gimana sama Yasmin?” tanya Bayu tiba-tiba.
“Gimana apanya?”
“Ya hubungannyalah, loe lagi pdkt sama dia kan ?” tanya Bayu yakin.
“Sok tau loe”
“Loh emang enggak? eh tapi gue suka deh sama penampilannya akhir-akhir ini, jadi ramah gitu, terus kaca matanya juga dilepas, jadi kesan cupunya hilang deh”
PLAKK!!!
Reno memukul kepala Bayu dgn majalah.
“Sakit woi.. kenapa loe? jealous..” goda Bayu sembari menoel-noel dagu Reno yang membuat Reno bergidik.
“Inget Alya woi kalo mau muji cewek lain”
“Alya sih tetap selalu di hati gue”
“Gombal” timpal Reno.
“Udah-udah. Balik nih ke Yasmin, loe beneran gak suka sama dia ?”
“Lah emang tadi gue bilang gak suka ?”
“Jadi loe suka sama dia?”
“gak tau”
Bayu benar-benar dibuat gondok dgn jawaban Reno yang muter-muter, tapi apalah daya, dia tau, Reno memang tidak suka dipaksa, kalo dia mau cerita pasti bakal cerita sendiri.
‘seandainya gue punya waktu buat suka sama dia Bay' ratap Reno dalam hati kecilnya.
“Eh Ren..”
“Apa lagi?”
“Muka loe tambah pucet akhir-akhir ini, loe sakit ?”
“enggak”
“Yakin?”
“Iyalah, kenapa sih?”
“gak tau, feeling gue beda aja gitu” ujar Bayu.
***
Tangan kanannya terkepal kuat, sampai otot-ototnya ikut menonjol, sementara tangan kirinya memegang dadanya yg sesak, nafasnya tersengal-sengal, Reno mencoba bangkit, tapi sia-sia, badannya langsung merosot ke lantai.
“Reno..” panggil Yasmin panik, Reno hanya tersenyum. Yasmin langsung menjejalkan sebutir pil ke dalam mulut Reno. Tapi tidak seperti biasanya, obat itu sepertinya tidak langsung berkerja. Reno masih terlihat menahan rasa sakit di tubuhnya. Yasmin meraih tangan kanan Reno yang terasa sangat dingin, ia menggenggam tangan itu erat. Lagi-lagi di kondisi seperti inipun, Reno masih saja tersenyum ke arahnya. Yang malah membuat butiran air mata Yasmin menetes.
“Ja-jangan nangis..” ujar Reno terbata-bata, ia seperti ingin mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Yasmin, namun sepertinya rasa sakit itu telah merampas seluruh kekuatannya. Yasmin yang menyadari itu, segera menghapus air matanya sendiri dan tersenyum ke arah Reno.
Perlahan, keadaan Reno mulai membaik. Senyumnya lebih terlihat nyata sekarang. Dia menegakkan duduknya. Yasmin merasa lega bukan main, ia tidak mau kehilangan Reno.
“Elo gak boleh ikut pertandingan besok Ren"
“gak bisa Yas,, besok itu pertandingan yg udah gue tunggu-tunggu”
“Elo sadar dong Ren sama keadaan loe,, please..”
Yasmin memohon berharap Reno akan luluh. Jauh di lubuk hatinya, Reno tidak tega melihat Yasmin seperti ini, tapi ini mungkin akan menjadi pertandingan terakhirnya.
“Tolong loe yg ngertiin posisi gue Yas..”
“Reno !! gue cuma minta loe gak main besok. Apa sih pentingnya futsal??”
“Loe kenapa sih Yas?? kenapa loe jadi marah-marah gini sama gue?? lagi pula loe siapa marah-marah sama gue" Yasmin terdiam, belum pernah ia melihat Reno seperti ini. sadarkah Reno dengan semua kata yang ia ucapkan tadi, sadarkah itu sangat menyakiti hatinya.
“Maaf, gue emang bukan siapa-siapa, gue cuma orang asing yang peduli sama loe karena gue sayang sama loe”
Yasmin langsung berlari meninggalkan Reno sendiri. Ia cukup kaget dengan kata-kata Yasmin,
‘mungkin dari awal emang lebih baik kita gak pernah kenal sebelumnya’ bisik Reno dalam hati.
***
Pantulan kaca jedela memperlihatkan matanya yang sayu dan sembab karena menangis semalaman. Dia melirik ke arah jam dindingnya, pukul 9 pagi, pertandingan Reno baru saja di mulai. Ingin rasanya ia datang, tapi mengingat kata-kata Reno kemarin, hanya terus menambah luka hatinya.
“Yas,, kakak bawa makanan nih”
Yasmin hanya tersenyum sekilas seraya menghampiri Alex. Tiba-tiba dia jadi teringat satu hal.
“Kak..”
“Ya?”
“Kemarin Reno kambuh dan obatnya gak langsung berkerja kaya biasa”
Alex langsung menatap Yasmin tajam.
“Sekarang dia dimana??”
“Lagi main futsal”
“Anak itu ya bener-bener deh. ayo Yas anterin kakak ke tempatnya sekarang juga”
Alex langsung mengambil kunci mobilnya, Yasmin yang bingung hanya bisa pasrah,
Sesampainya ditempat pertandingan,
Mereka berdua berlarian tergesa-gesa dari parkiran ke arah lapangan. Perasaan tidak enak langsung menyergap Hati Yasmin saat ia melihat ramai-ramai di tengah lapangan. Ia pun langsung menghampiri kerumunan itu,
DEG!!!
Tubuhnya langsung jatuh lemas,, saat melihat tubuh Reno terkapar pingsan dilapangan.
“Gotong anak ini ke mobil saya, dia harus ke rumah sakit sekarang” Perintah Alex yang berdiri di belakang Yasmin,
meski bingung Bayu dan teman-temannya tetap mengangkat Reno menuju mobil Alex.
***
Dalam pelukan Alya, Yasmin terus menangis. Bayu mondar-mandir cemas di hadapannya, dia tidak menyangka sahabatnya tega merahasiakan ini semua darinya,
Kata-kata Alex selama dalam perjalanan, serasa bagai kaset otomatis yang terus berputar di otak Yasmin dan Bayu.
'kondisi jantungnya benar-benar sudah terlalu lemah, harapan hidupnya terlalu kecil. padahal kakak udah selalu ngingetin dia kalo obat itu udah gak bereaksi apa-apa sama sakitnya, berarti itu saatnya dia untuk melupakan segala aktifitasnya. Kakak gak nyangka dia akan senekat ini, padahal biasanya dia penuh perhitungan..'
“Yas..” panggil Alex pelan.
“Gimana kak?? gimana operasinya??” tanya Alya langsung.
“Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk di operasi, dia pengen ketemu sama kamu” semua yang berada di situ, terutama Yasmin dan Bayu, merasa sangat terguncang mendengar kabar ini. Yasmin berusaha berdiri, meski tubuhnya agak limbung, dengan sedikit terseok-seok ia memasuki ruangan dimana Reno berada.
“Apa orang tuanya masih belum datang ?” tanya Alex ke Bayu yang sekarang tampak duduk di samping Alya.
“Belum, orang tuanya tinggal di medan,, dia tinggal sendiri disini, jadi orang tuanya masih dalam perjalanan” ujar Bayu getir. Alya berusaha menenangkan Bayu dengan membiarkan Bayu bersandar di pundaknya. Dokter Alex hanya tersenyum tipis, dari kaca yang ada di pintu, ia memandangi Yasmin dan Reno.
Sambil berusaha terus tersenyum, Yasmin duduk di samping tempat tidur Reno. Dan seperti biasa, Reno tetap tersenyum tak menghiraukan selang-selang yang menempel di tubuhnya dan masker oksigen yang menutup hidung dan mulutnya.
Bibir Reno bergerak-gerak, Yasmin melepas masker oksigen yang menghalanginya. Tangan Reno yang Yasmin genggam sedikit bergerak juga.
“kenapa??” tanya Yasmin pelan.
“Ma-makasih..”
“Harusnya gue yang bilang makasih, gue belum sempet bikin loe bahagia, belum bisa ngebales apa yang loe kasih ke gue”
“Elo.. se-selalu.. bikin.. gue..baha-gia..”
Dengan nafas tersengal-sengal, Reno terus saja berbicara, meski Yasmin telah meletakkan telunjuknya dibibir Reno yang kini tampak putih.
“Udah Ren,, udah”
"Yas,, its a right time..”
“Time to??”
Yasmin berusaha merangkai kata-kata Reno yang mulai terasa tidak jelas.
“Time.. to.. declare.. I love.. you..”
Air mata langsung membentuk sungai-sungai kecil di pipi Yasmin,
Reno tersenyum ke arahnya. Senyumnya terlihat sangat damai.
“I love you too” bisik Yasmin, tepat ketika tangan Reno yang ia genggam melemas dan kedua mata Reno tertutup. Yasmin mengecup lembut kening Reno, tanpa mempedulikan garis panjang di layar monitor. Yasmin meletakkan kepalanya di atas dada Reno meski sudah tidak ada satupun detak yang terasa disana, tapi Yasmin tidak meperdulikannya.
“Aku mau nyanyi buat kamu,, semoga kamu seneng..” desah Yasmin pelan
Belum sempat ku membagi kebahagiaanku...
Belum sempat ku membuat dia tersenyum..
Haruskah ku kehilangan tuk kesekian kali...
Tuhan kumohon jangan lakukan itu....
Sebab ku sayang dia...
Sebab ku kasihi dia...
Sebab ku tak rela...
Tak slalu bersama..
Ku rapuh tanpa dia..
Seperti kehilangan arah..
Jikalau memang harus ku alami duka...
Kuatkan hati ini menerimanya...
(Agnes Monica-Rapuh)
Follow @anggimuliawati_
Pagi ini, tidak ubahnya seperti pagi-pagi yang telah lalu. Awan terangkai dengan warna birunya yang sempurna, dan kicauan burung yang saling bersautan bagai musik alam pengiring hari.
Bangunan sekolah yang di dominasi oleh warna coklat itu masih sepi. Disalah satu ruang kelas, baru terdapat seorang siswi yang sibuk membaca buku catatannya. Tanpa mempedulikan suasana sepi di sekitarnya, ia terus membaca, entahlah apa yang dibacanya.
“Hai..pagi..” Sapa seorang anak laki-laki bertubuh tinggi, putih, Gadis itu hanya mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya.
“Baca apa ?”
“Biologi” Jawabnya tanpa senyum, terkesan dingin, jutek dan singkat.
“Oh.. rajin ya loe, pantes selalu juara kelas. Hehe.. ya udah deh gue mau ke lapangan bola dulu, semangat ya belajarnya”
lagi-lagi laki-laki itu selalu ramah seperti biasanya. Dia tersenyum ke arah gadis manis berkacamata itu, kemudian berlalu keluar kelas, meninggalkan gadis itu, sendiri dalam dunianya.
Tepat saat laki-laki itu beranjak pergi, gadis itu mengangkat wajahnya, menatap teman sekelasnya itu sekilas, senyum tipis terpulas di wajahnya, lalu ia mulai menekuni bukunya kembali.
*
Suasana riuh rendah selalu tercipta saat anak-anak futsal berlatih, seperti yang terjadi siang ini. Penonton yang rata-rata di dominasi oleh kaum hawa tersebut, sibuk meneriakkan semangat mereka untuk duo futsal yang memang menjadi idola mereka.
“Kesana yuk, gue mau nonton Bayu"
“Enggak ah Al"
Alya memberikan pandangan memohon kepada temannya yang satu ini.
“Ayolah Yas...”
Yasmin yang masih saja sembunyi di balik bukunya, menatap Alya sejenak dari balik kacamatanya, dan kemudian menggeleng. Alya pasrah, ia memang tidak pernah berhasil untuk membujuk Yasmin beralih sebentar dari dunianya itu.
“Ya udah deh gue kesana ya, mau nyusulin Bayu,, hehe..”
Yasmin hanya mengangguk.
3 jam Kemudian.
Tepat setelah membaca halaman terakhir, Yasmin langsung menutup buku yang tebalnya bisa membuat orang pingsan sekali pukul itu dan melirik jam tangan putih polos di tangannya. Keasikkan membaca lagi-lagi membuatnya lupa waktu. Sekolah telah benar-benar sepi sekarang.
Yasmin melirik ke arah lapangan futsal yang nampak kosong. Dengan memeluk buku-bukunya dan menyandang tasnya, ia mulai berjalan menuju gerbang sekolah.
“Argh..”
Yasmin menghentikan langkahnya. Suasana yang begitu senyap, membuat sensitivitas pendengarannya semakin peka. Dia melihat ke arah kanan kirinya, dan tidak nampak satupun aktivitas yang terjadi.
“Perasaan gue doang kali yah” gumam Yasmin pelan, kemudian memutuskan untuk kembali berjalan.
“Argh..”
baru satu langkah Yasmin berjalan, suara yg terdengar seperti erangan itu mampir lagi ke telinganya, dan Yasmin yakin kali ini, bahwa suara itu nyata, bukan hanya perasaannya saja. Yasmin mendekat ke arah lapangan futsal, karena ia menyakini suara itu muncul dari sana.
Tidak ada satupun rasa takut yang merasukinya, yang ada ia malah penasaran dengan suara itu. Yasmin menajamkan pendengarannya, layaknya seorang agen mata-mata, Yasmin mengendap-ngendap di dinding menuju ruang ganti pemain.
“Hah... hah... hah..” kali ini, suara rintihan itu berganti dengan suara napas yang tidak beraturan. Yasmin semakin yakin, suara itu berasal dari dalam ruang ganti pemain. Sepelan mungkin, Yasmin masuk ke dalam ruangan tersebut dan alangkah terkejutnya dia melihat pemandangan di depannya.
“Reno??”
“Hah.. o-obat.. gue.. to-long..”
Yasmin meletakkan buku-buku di pegangannya secara asal, kemudian ia mulai mengobrak-abrik tas Reno, mencari obat yang Reno maksud. Yasmin langsung mengangsurkan sebutir pil dan sebotol air mineral untuk Reno.
“Thanks..” ujar Reno lemah sembari berusaha tersenyum. Ia mencoba bersandar di dinding. Wajahnya yang putih nampak memerah, keringat membasahi tubuhnya, napasnya masih terdengar terengah-engah.
Sementara Yasmin masih bersimpuh di samping Reno. Tangannya memegang botol obat yang tadi ia temukan dalam tas Reno. Dalam diam ia mengamati obat tersebut, Yasmin mengenal betul obat ini, obat yang selalu ada di ruang kerja kakaknya.
“Elo?” tanya Yasmin dengan nada tak percaya.
“iya,, gue mohonjangan bilang ini ke siapapun”
Reno tersenyum lagi ke arah Yasmin. Yasmin memandangnya bingung, ia tampak santai, sangat kontras dgn keadaannya beberapa menit yg lalu.
“Bukan urusan gue juga sih” jawab Yasmin cuek.
“Gue anterin pulang yuk” tawar Reno sembari membereskan tasnya yang isinya baru saja Yasmin keluarkan semua.
“gak usah gue bisa sendiri”
Reno menatap Yasmin sekilas.
“Tenang aja, gue masih bisa bawa motor gue kok. Mau yah, sebagai ucapan terimakasih dari gue nih"
Yasmin menimbang-nimbang sebentar, ia melirik jam tangannya, sudah pukul 5 sore. Akhirnya Yasmin mengangguk ke arah Reno kemudian ia berdiri, tapi tiba-tiba tangannya di tarik oleh Reno.
“Apa lagi ?” tanya Yasmin,
“Itu obat gue, tanpa itu gue gak bisa hidup Yas,, hehe..”
Yasmin melihat botol putih bening yang masih ada dalam genggaman tangannya itu. Dengan sedikit senyum, ia menyerahkannya ke Reno.
“Loe tahu, senyum loe akan kelihatan lebih tulus kalo lebih banyak sedikit” bisik Reno. lagi-lagi Reno tersenyum ke arah Yasmin.
Yasmin hanya diam tanpa ekspresi, meski kata-kata tadi terdengar lembut di telinganya.
*
Kamar itu begitu hening, seperti biasa. Hanya ada sedikit suara, dari pertemuan antara pulpen dan kertas yang beradu sejak tadi. Yasmin diam sejenak. Dia meletakkan pulpennya, entah kenapa malam ini, ia jadi kepikiran soal Reno. Ia sama sekali tidak menyangka, temannya yang begitu aktif dan ramah itu menyimpan sebuah rahasia besar dalam hidupnya.
Dagunya ia tumpukkan di kedua tangannya yang saling bertindihan di atas meja belajarnya. Yasmin telah mengenal Reno sejak mereka sama-sama sekelas waktu kelas sepuluh dan berlanjut hingga kelas sebelas sekarang. Di matanya Reno adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Penampilannya yang selalu rapi di tunjang dengan wajahnya yang tampan membuat ia di kagumi oleh hampir seluruh anak perempuan di sekolahnya. Otaknya pun cerdas dan menjadi pesaing utamanya dalam memperebutkan juara kelas.
Belum lagi prestasinya dalam bidang olahraga, bersama sahabatnya Bayu, ia selalu berhasil memimpin rekan-rekan setimnya untuk menjuarai berbagai lomba futsal yang mereka ikuti.
“Anak seaktif dan seramah dia ternyata....”
“Aduh Yasmin loe kenapa jadi mikirin dia sih!! lupain.. lupain.. ayo sekarang belajar lagi"
Yasmin memukul-mukul kepalanya sendiri pelan, kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
***
Dengan langkah gontai, Reno berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Seperti biasa, ia tetap tersenyum ramah, kepada siapapun yang ia lewati, entah itu dokter, suster atau pasien, entah ia kenal ataupun tidak, senyum itu tetap menghiasi wajahnya. Meski hatinya sedang rapuh luar biasa.
Langkahnya terhenti di depan taman rumah sakit. Matanya menatap lurus ke arah sosok yang dikenalnya. Sembari tersenyum, Reno menghampiri orang itu yang nampak sedang serius dengan buku di tangannya.
“Hai,, Yas,, gue boleh duduk yah??” sapa Reno riang.
Yasmin mengangkat wajahnya, kemudian ia hanya mengangguk.
“Ngapain disini ?” tanya Reno basa-basi. Tapi tidak ada satupun respon dari Yasmin. Reno hanya tersenyum, ia mengamati Yasmin yang dimana saja, selalu setia bersama buku-bukunya.
“Gue kagum deh sama loe setiap hari selalu baca buku gak pernah bosen, good job” celoteh Reno,, meski ia tahu Yasmin tidak akan menggubrisnya sama sekali.
Karena itulah Yasmin, sosok anak jenius yang memakai kaca mata dan selalu membawa buku kemanapun ia pergi. Pendiam dan jutek. Pembawaannya cenderung tertutup. Jarang tersenyum apalagi tertawa.
“Maaf Yas, udah nunggu lama ya? Hlo?? Reno?”
“Dokter Alex??”
“Kamu kenal sama Yasmin??”
“Iya, saya temen sekelasnya dok”
“Saya kakaknya Yasmin"
Reno hanya tersenyum seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ya udah ayo katanya mau makan siang” ujar Yasmin tiba-tiba, seraya berdiri dan berjalan.
“Kamu udah makan Ren?? kalo belum ayo ikut kita aja” tawar dokter Alex.
“Ehh gak usah dok makasih.. saya.. emm.. itu..” Reno kelabakan sendiri mencari alasan apa.
“Udah ayo, saya tau kamu gak punya alasan buat nolak”
Reno hanya bisa cengengesan.
kemudian ia bersama Alex, menyusul Yasmin yang telah berjalan cepat menuju parkiran.
“Udah lama Ren kenal Yasmin??”
“Iya dok, kita sekelas dari kelas sepuluh dulu” jelas Reno. Sementara Yasmin memilih utk diam,
“Oh, Yasmin jarang cerita sih, saya malah cuma kenal temennya yang namanya Alya,,”
“Iya, Yasmin memang sahabatan sama Alya, kebetulan Alya itu pacarnya sahabat saya. hehe..”
“Toilet” celetuk Yasmin seraya berlalu begitu saja.
“Maaf ya Ren,, Yasmin memang seperti itu, tertutup..”
“Gpp dok, saya tau kok. Saya gak nyangka lho, dokter sama Yasmin kakak adek, soalnya beda sih” dokter Alex hanya tertawa mendengar kata-kata Reno.
“Saya sama dia beda sepuluh tahun, itu sebabnya walaupun saya sayang banget sama dia, tapi susah buat ngeleburin jarak yang ada, apalagi semenjak...”
“Semenjak apa dok ?” Tanya Reno penasaran.
“Kedua orang tua kami meninggal”
Reno tersentak kaget.
“Maaf dok, saya enggak tau”
Dokter Alex hanya tersenyum.
“No problem.. dulu Yasmin adalah gadis yg periang, tapi semenjak saat itu, dia tenggelam di balik bukunya, saya saja sampai bingung sendiri mau mendekati dia dari mana. Seandainya ada orang yang bisa merubah dia lagi kaya dulu”
entah kenapa, kalimat terakhir yang dokter Alex katakan, begitu merasuk kuat di dalam hati Reno, kata-kata itu bagai memanggilnya.
***
Belum pernah terjadi sebelumnya, hari ini seorang Yasmin mau menemani Alya untuk menyaksikan latihan futsal. Meski di tangannya tetap ada buku, tapi diam-diam tanpa sepengetahuan Alta, Yasmin terus mencuri pandang ke arah Reno, satu hal yang membuatnya bingung sendiri.
‘loe ngeliatin dia karena cuma loe yang tahu keadaannya dia.. cuma karena itu Yasmin,,’ batinnya seolah-olah berusaha menenangkan hatinya yang sibuk bertanya-tanya.
Yasmin bisa melihat Reno yang terus berlari, tanpa beban, bebas, dan penuh keyakinan.
Sempat membuat Yasmin tak percaya apakah keadaan Reno yang ia ketahui hanya kedok belaka, tapi lantas pikiran itu ia buang jauh-jauh. Setiap setelah melakukan tendangan Reno akan menoleh ke arah penggemarnya dan tersenyum, yang tentu saja langsung membuat kehebohan yang tak terkira di lapangan.
“Loe ngeliatin apa sih Yas??” tanya Alya curiga.
“Buku” jawab Yasmin asal, sembari kembali menekuni bukunya. Alya memandang Yasmin penuh curiga,, entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, tadi ia merasa Yasmin sedang memperhatikan Reno. Tak mau ambil pusing, Alya kembali memfokuskan perhatiannya untuk Bayu.
***
Entahlah apa yang membuat mereka bisa duduk berdua sekarang. Alasan pertama yang paling logis tentu saja, karena mereka berdua satu kelompok dalam pembuatan karya ilmiah, tapi alasan-alasan lainnya cukup membuat Yasmin tidak mengerti, karena ini pertama kalinya ia menyetujui untuk membuat tugas kelompok bersama-sama, sebelumnya Yasmin selalu mengerjakan tugas itu sendiri, meski judulnya tugas kelompok.
Dan sekarang mereka duduk di halaman belakang rumah Yasmin, hening. Di awal Reno sempat mencoba mencairkan suasana, tapi karena Yasmin yang terus sibuk dengan laptop dan buku-bukunya, kini Reno pun ikut tenggelam mengerjakan bagiannya. Dan lagi-lagi entah kenapa, Yasmin merasa sedikit menyesal dgn sikapnya tadi.
“Titt.. titt.. titt..”
Yasmin celingukan mencari asal suara, yg membuat Reno tersenyum dan menunjukkan jam tangannya yg menyala. Reno meraih tasnya, dan mengeluarkan botol obatnya, lantas ia langsung meminum obatnya tersebut.
“Sorry kalo bikin loe kaget, gue suka lupa kalo gak kaya gitu” ujar Reno.
“Gue malah mikir elo lupa kalo loe lagi sakit”
Reno terkekeh mendengar kata-kata Yasmin.
“Kenapa?”
“Ya, elo selalu bersemangat setiap hari, dan saat main futsal, itu jelas-jelas ngebahayain kondisi loe”
“Loe mau tau kenapa ?”
Yasmin hanya berekspresi datar tanpa respon.
“Karena gue tau, hidup gue mungkin akan jauh lebih singkat dari temen-temen gue, jadi dari pada gue ngeratapin nasib, ya mending gue nikmatin ajja akhir-akhir hidup gue” Reno melanjutkan menjawab pertanyaannya sendiri, meski Yasmin tidak memintanya. Yasmin terdiam sejenak mencerna kata-kata Reno,, entah kenapa kata-kata itu seperti menyentil batinnya.
“Oh ya loe masih nyimpen rahasia ini sendiri kan?” tanya Reno lagi. Yasmin hanya mengangguk.
“Good job ! thanks ya Yas...”
Yasmin bisa melihat jelas, ketulusan terpancar dari kata-kata Reno. Ia mengalihkan matanya kearah Reno,, Reno yang sadar sedang diperhatikan oleh Yasmin, lalu menoleh ke arah Yasmin, hingga pandangan mereka bertemu.
“Eh sorry,,” ucap Reno. Yasmin hanya menundukkan kepalanya, ia terbawa suasana, suasana nyaman dan hangat dari mata Reno.
“Gpp,,” sahut Yasmin seraya membetulkan letak kacamatanya.
“Loe minus Yas??”
Yasmin menggeleng.
“Plus?”
Lagi-lagi Yasmin menggeleng.
“Ohh silindris yah??” tebak Reno mantap.
“Enggak juga kok”
Reno memandang ke arah Yasmin kaget.
“Terus ngapain pake kacamata kalo gitu?”
“Pengen aja”
“Haha.. gue suka gaya loe"
Reno malah memuji Yasmin seraya memberi bonus senyuman. lagi-lagi Yasmin dibuat spechless, dia berpikir Reno akan mentertawakan jawabannya yang asal tapi asli tersebut. Reno memang berbeda.
“Gue pengen bisa ramah kaya loe” ujar Yasmin tiba-tiba, ia sendiri kaget, kata-kata itu meluncur tanpa kendali dari bibirnya. Reno menghadap ke arahnya, sembari tersenyum.
“Gampang Yas,, loe tinggal senyum setulus mungkin dari dalem sini” Reno menunjuk dadanya.
“Gue lupa caranya tersenyum semenjak...”
“Iya gue tau, kakak loe udah sempet ceritain itu” potong Reno cepat.
“Gue kangen mereka”
Yasmin menunduk seraya menggigit bagian bawah bibirnya, setitik air mata menetes membasahi wajahnya. Dengan tangannya Reno menyentuh dagu Yasmin, hingga membuatnya terangkat.
Pelan-pelan, Reno melepas kacamata Yasmin, dan dgn ujung-ujung jarinya, ia menghapus air mata Yasmin.
“Loe tau, mata bening loe lebih indah tanpa hiasan bingkai kaca mata di sekelilingnya, dan senyuman loe bakal bikin siapapun terpesona melihatnya” ujar Reno yg mampu membuat Yasmin tersipu. Tapi mungkin Reno benar, karena saat ini, saat senyumnya hadir, hatinya pun merasa bahagia.
“Jadi mulai sekarang, loe harus sering-sering senyum yah”
Reno mengacak-acak rambut Yasmin. Yasmin hanya terdiam, tapi kali ini diamnya berbeda, ada senyum manis di bibirnya yg menyatakan segalanya.
***
Sudah lama mereka tidak pernah berdua lagi seperti ini. Tepatnya sejak Bayu jadian dgn Alya. Tapi Reno maklum akan hal itu. Toh akhir-akhir ini, dia juga sering menghabiskan waktunya bersama Yasmin.
“Gimana loe sama Alya?”
“Gitu deh, tambah hari tambah sayang aja gue sama dia”
Reno hanya terkekeh mendengarnya. Kemudian ia mengambil majalah Bayu yang ada di atas kasur dan mulai membacanya.
“Loe sendiri gimana sama Yasmin?” tanya Bayu tiba-tiba.
“Gimana apanya?”
“Ya hubungannyalah, loe lagi pdkt sama dia kan ?” tanya Bayu yakin.
“Sok tau loe”
“Loh emang enggak? eh tapi gue suka deh sama penampilannya akhir-akhir ini, jadi ramah gitu, terus kaca matanya juga dilepas, jadi kesan cupunya hilang deh”
PLAKK!!!
Reno memukul kepala Bayu dgn majalah.
“Sakit woi.. kenapa loe? jealous..” goda Bayu sembari menoel-noel dagu Reno yang membuat Reno bergidik.
“Inget Alya woi kalo mau muji cewek lain”
“Alya sih tetap selalu di hati gue”
“Gombal” timpal Reno.
“Udah-udah. Balik nih ke Yasmin, loe beneran gak suka sama dia ?”
“Lah emang tadi gue bilang gak suka ?”
“Jadi loe suka sama dia?”
“gak tau”
Bayu benar-benar dibuat gondok dgn jawaban Reno yang muter-muter, tapi apalah daya, dia tau, Reno memang tidak suka dipaksa, kalo dia mau cerita pasti bakal cerita sendiri.
‘seandainya gue punya waktu buat suka sama dia Bay' ratap Reno dalam hati kecilnya.
“Eh Ren..”
“Apa lagi?”
“Muka loe tambah pucet akhir-akhir ini, loe sakit ?”
“enggak”
“Yakin?”
“Iyalah, kenapa sih?”
“gak tau, feeling gue beda aja gitu” ujar Bayu.
***
Tangan kanannya terkepal kuat, sampai otot-ototnya ikut menonjol, sementara tangan kirinya memegang dadanya yg sesak, nafasnya tersengal-sengal, Reno mencoba bangkit, tapi sia-sia, badannya langsung merosot ke lantai.
“Reno..” panggil Yasmin panik, Reno hanya tersenyum. Yasmin langsung menjejalkan sebutir pil ke dalam mulut Reno. Tapi tidak seperti biasanya, obat itu sepertinya tidak langsung berkerja. Reno masih terlihat menahan rasa sakit di tubuhnya. Yasmin meraih tangan kanan Reno yang terasa sangat dingin, ia menggenggam tangan itu erat. Lagi-lagi di kondisi seperti inipun, Reno masih saja tersenyum ke arahnya. Yang malah membuat butiran air mata Yasmin menetes.
“Ja-jangan nangis..” ujar Reno terbata-bata, ia seperti ingin mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Yasmin, namun sepertinya rasa sakit itu telah merampas seluruh kekuatannya. Yasmin yang menyadari itu, segera menghapus air matanya sendiri dan tersenyum ke arah Reno.
Perlahan, keadaan Reno mulai membaik. Senyumnya lebih terlihat nyata sekarang. Dia menegakkan duduknya. Yasmin merasa lega bukan main, ia tidak mau kehilangan Reno.
“Elo gak boleh ikut pertandingan besok Ren"
“gak bisa Yas,, besok itu pertandingan yg udah gue tunggu-tunggu”
“Elo sadar dong Ren sama keadaan loe,, please..”
Yasmin memohon berharap Reno akan luluh. Jauh di lubuk hatinya, Reno tidak tega melihat Yasmin seperti ini, tapi ini mungkin akan menjadi pertandingan terakhirnya.
“Tolong loe yg ngertiin posisi gue Yas..”
“Reno !! gue cuma minta loe gak main besok. Apa sih pentingnya futsal??”
“Loe kenapa sih Yas?? kenapa loe jadi marah-marah gini sama gue?? lagi pula loe siapa marah-marah sama gue" Yasmin terdiam, belum pernah ia melihat Reno seperti ini. sadarkah Reno dengan semua kata yang ia ucapkan tadi, sadarkah itu sangat menyakiti hatinya.
“Maaf, gue emang bukan siapa-siapa, gue cuma orang asing yang peduli sama loe karena gue sayang sama loe”
Yasmin langsung berlari meninggalkan Reno sendiri. Ia cukup kaget dengan kata-kata Yasmin,
‘mungkin dari awal emang lebih baik kita gak pernah kenal sebelumnya’ bisik Reno dalam hati.
***
Pantulan kaca jedela memperlihatkan matanya yang sayu dan sembab karena menangis semalaman. Dia melirik ke arah jam dindingnya, pukul 9 pagi, pertandingan Reno baru saja di mulai. Ingin rasanya ia datang, tapi mengingat kata-kata Reno kemarin, hanya terus menambah luka hatinya.
“Yas,, kakak bawa makanan nih”
Yasmin hanya tersenyum sekilas seraya menghampiri Alex. Tiba-tiba dia jadi teringat satu hal.
“Kak..”
“Ya?”
“Kemarin Reno kambuh dan obatnya gak langsung berkerja kaya biasa”
Alex langsung menatap Yasmin tajam.
“Sekarang dia dimana??”
“Lagi main futsal”
“Anak itu ya bener-bener deh. ayo Yas anterin kakak ke tempatnya sekarang juga”
Alex langsung mengambil kunci mobilnya, Yasmin yang bingung hanya bisa pasrah,
Sesampainya ditempat pertandingan,
Mereka berdua berlarian tergesa-gesa dari parkiran ke arah lapangan. Perasaan tidak enak langsung menyergap Hati Yasmin saat ia melihat ramai-ramai di tengah lapangan. Ia pun langsung menghampiri kerumunan itu,
DEG!!!
Tubuhnya langsung jatuh lemas,, saat melihat tubuh Reno terkapar pingsan dilapangan.
“Gotong anak ini ke mobil saya, dia harus ke rumah sakit sekarang” Perintah Alex yang berdiri di belakang Yasmin,
meski bingung Bayu dan teman-temannya tetap mengangkat Reno menuju mobil Alex.
***
Dalam pelukan Alya, Yasmin terus menangis. Bayu mondar-mandir cemas di hadapannya, dia tidak menyangka sahabatnya tega merahasiakan ini semua darinya,
Kata-kata Alex selama dalam perjalanan, serasa bagai kaset otomatis yang terus berputar di otak Yasmin dan Bayu.
'kondisi jantungnya benar-benar sudah terlalu lemah, harapan hidupnya terlalu kecil. padahal kakak udah selalu ngingetin dia kalo obat itu udah gak bereaksi apa-apa sama sakitnya, berarti itu saatnya dia untuk melupakan segala aktifitasnya. Kakak gak nyangka dia akan senekat ini, padahal biasanya dia penuh perhitungan..'
“Yas..” panggil Alex pelan.
“Gimana kak?? gimana operasinya??” tanya Alya langsung.
“Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk di operasi, dia pengen ketemu sama kamu” semua yang berada di situ, terutama Yasmin dan Bayu, merasa sangat terguncang mendengar kabar ini. Yasmin berusaha berdiri, meski tubuhnya agak limbung, dengan sedikit terseok-seok ia memasuki ruangan dimana Reno berada.
“Apa orang tuanya masih belum datang ?” tanya Alex ke Bayu yang sekarang tampak duduk di samping Alya.
“Belum, orang tuanya tinggal di medan,, dia tinggal sendiri disini, jadi orang tuanya masih dalam perjalanan” ujar Bayu getir. Alya berusaha menenangkan Bayu dengan membiarkan Bayu bersandar di pundaknya. Dokter Alex hanya tersenyum tipis, dari kaca yang ada di pintu, ia memandangi Yasmin dan Reno.
Sambil berusaha terus tersenyum, Yasmin duduk di samping tempat tidur Reno. Dan seperti biasa, Reno tetap tersenyum tak menghiraukan selang-selang yang menempel di tubuhnya dan masker oksigen yang menutup hidung dan mulutnya.
Bibir Reno bergerak-gerak, Yasmin melepas masker oksigen yang menghalanginya. Tangan Reno yang Yasmin genggam sedikit bergerak juga.
“kenapa??” tanya Yasmin pelan.
“Ma-makasih..”
“Harusnya gue yang bilang makasih, gue belum sempet bikin loe bahagia, belum bisa ngebales apa yang loe kasih ke gue”
“Elo.. se-selalu.. bikin.. gue..baha-gia..”
Dengan nafas tersengal-sengal, Reno terus saja berbicara, meski Yasmin telah meletakkan telunjuknya dibibir Reno yang kini tampak putih.
“Udah Ren,, udah”
"Yas,, its a right time..”
“Time to??”
Yasmin berusaha merangkai kata-kata Reno yang mulai terasa tidak jelas.
“Time.. to.. declare.. I love.. you..”
Air mata langsung membentuk sungai-sungai kecil di pipi Yasmin,
Reno tersenyum ke arahnya. Senyumnya terlihat sangat damai.
“I love you too” bisik Yasmin, tepat ketika tangan Reno yang ia genggam melemas dan kedua mata Reno tertutup. Yasmin mengecup lembut kening Reno, tanpa mempedulikan garis panjang di layar monitor. Yasmin meletakkan kepalanya di atas dada Reno meski sudah tidak ada satupun detak yang terasa disana, tapi Yasmin tidak meperdulikannya.
“Aku mau nyanyi buat kamu,, semoga kamu seneng..” desah Yasmin pelan
Belum sempat ku membagi kebahagiaanku...
Belum sempat ku membuat dia tersenyum..
Haruskah ku kehilangan tuk kesekian kali...
Tuhan kumohon jangan lakukan itu....
Sebab ku sayang dia...
Sebab ku kasihi dia...
Sebab ku tak rela...
Tak slalu bersama..
Ku rapuh tanpa dia..
Seperti kehilangan arah..
Jikalau memang harus ku alami duka...
Kuatkan hati ini menerimanya...
(Agnes Monica-Rapuh)
Follow @anggimuliawati_


Komentar
Posting Komentar