Tukeran Pacar :)

Dimas mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Sudah beberapa kali ia menguap. Matanya terasa berat, bahkan ia sempat tertidur beberapa saat yang lalu.
Dilihatnya gadis yang sedari tadi duduk di depannya. Gadis itu masih terlihat seperti pertama kali ia duduk. Tetap tenang dengan buku yang sama. Sesekali ekspresinya berubah. Kadang ia mengerutkan keningnya, tersenyum, bahkan sampai melotot.

“Chelle kamu kapan selesainya sih?”
akhirnya Dimas bicara. Gadis di depannya itu langsung mendongak, memalingkan wajahnya dari buku yang sedari tadi menjadi fokus penglihatannya.
“Sampai buku ini selesai di baca”
Dimas tak bisa menyembunyikan matanya yang langsung melotot mendengar ucapan kekasihnya itu? Serius menunggu sampai bukunya selesai? Setengahnya aja belum selesai dibacanya, paling baru seperempat bagian, dan itu sudah menghabiskan waktu hampir satu jam. Bisa dibayangkan bukunya setebel apa? Jangan ditanya deh itu buku jenis apa. Dimas sama sekali tidak mengerti sama semua buku yang pernah Michelle baca. Bisa mati bosan Dimas menunggu Michelle sampai menghabisakan buku itu.
“Kenapa?” suara Michelle kembali menyadarkan Dimas dari bayangan betapa bosannya kalau memang ia harus menunggu Michelle. Dimas langsung tersenyum masam.
“Gak papa kok..” jawabnya. Sebenarnya Dimas sama sekali tidak rela berkata ‘gak papa kok’ pada Michelle. Padahal aslinya dia bosan setengah mati.
“Kamu bosen ya?” kalau boleh jujur, Dimas akan bicara ‘Iya, gue dari tadi udah bosen!!’. Sayangnya Dimas tak akan setega itu pada kekasihnya ini. Dari awal Dimas tau Michelle suka membaca, dia suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk tenggelam pada bacaannya itu. Kalau kalimat tadi sampai di telinga Michelle, sama saja Dimas mengecewakan gadis yang sangat disayanginya itu.
“Enggak kok Chelle. Lanjutin aja bacanya.. aku tungguin kok beneran. Gak bosen kok..” jawabnya dengan wajah seceria mungkin.
“Beneran mau nunggu sampai selesai?”
“Iya dong Chelle. Masa aku ninggalin kamu sih? Gak mungkin banget kan. Hehehe…”
Dimas melihat Michelle mengangguk kecil dan kembali tenggelam dengan bacaannya. Dimas menghela napas berat. Mungkin ini sudah nasibnya.
“Mau kemana?” Tanya Dimas yg melihat Michelle berdiri. Jangan sampai Michelle berdiri untuk kembali mencari buku lain.
“Pulang Yuk, aku bacanya entaran aja” Ajak Michelle sembari tersenyum.
“Pulang?”
Michelle mengangguk. Tangannya sudah terulur mengajak Dimas untuk meninggalkan tempat ini.
Tentu saja Dimas langsung tersenyum lebar. 'Ah, kenapa gak dari tadi sih Chelle ngajakin pulangnya?' Batin Dimas yg langsunh merangkul kekasihnya itu untuk keluar dari tempat mengerikan ini.

***

“Digtaaaa Sini…” baru saja Digta laki-laki yang di panggil itu duduk. Sungguh ia tak tahu apa yang di konsumsi gadis itu sampai ia bisa sekuat itu. Kuat yang dimaksud bukan kuat memiliki otot besar seperti Ade Rai, tapi stamina gadis itu tak habis habisnya padahal sejak tadi pagi merekan sudah berkeliling Taman Mini dan sekarang sudah hampir pukul setengah empat sore.
Hampir semua tempat dan wahana yang ada sudah mereka datangi. Digta merasa kakinya sudah mau copot.
“Dig, kita belum lihat ke anjungan Jawa Barat kan? Tadi kan kita lewatin dulu. Yuk mumpung belum sore..” Gadis itu menarik tangan Digta dengan sekuat tenaga, dan menggandengnya lalu kembali berjalan menuju tempat yang ia maksud.
“Cell, kita naik apa kek gitu. Jangan jalan kaki”
“Kalau naik kendaraan, gak kerasa Dig. Kan kalau jalan kaki semuanya jadi keliatan jelas. Jalannya pelan-pelan, semuanya bisa teramati” Jawab Marcella bersemangat.
“Kamu gak suka ya jalan-jalan sama aku?”
di tengah perjalanan tiba-tiba Marcella melontarkan pertanyaan itu. Tentu saja membuat Digta sedikit bingung.
Awalnya ia memang senang menemani Marcella yang baru pertama kali ke Taman Mini karena Cella memang baru setahun ada di Jakarta. Tapi setelah seharian berkeliling dan nyaris tak beristirahat tentu saja membuat Digta kelelahan. Tapi kalau bilang cape, gengsi dong masa kalah sama cewek sih?
“Enggak kok Cell. Udah ini kita pulang ya? Aku ada janji sama Dimas..”
Marcella tersenyum dan mengangguk. Setidaknya melihat Marcella yang tersenyum membuat dirinya sedikit bersemangat.

***

“Kenapa sih kalian berdua? Baru juga dateng mukanya udah gak enak banget. Bukannya baru jalan sama pacar kalian masing masing?”
“Jalan sih jalan. Tapi liat dong kaki gue sampe lecet gini”
Rio tertawa geli menyadari kaki Digta yang sedang di rendam di sebuah baskom. “malah ketawa lagi loe” Lanjut Digta.
“Sorry, Sorry Dig. Emang loe dari mana sih? Habis lari marathon?”
“habis muterin Taman Mini seharian! Marcella tuh gak ada cape-capenya! Istirahat cuma pas makan siang, beli minuman, atau pas dia ke toilet. Sumpah rasanya kaki gue udah mau copot”
Rio kembali tertawa. Rio tau sekali Digta seperti apa. Adiknya yang satu ini memang tidak terlalu suka jalan-jalan. Dia lebih suka membaca buku, mendengarkan musik atau memetik gitarnya sampai berjam-jam. Digta tidak terlalu suka dengan kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga.
Dan sekarang Digta malah dapat cewek yang atraktif seperti Marcella.
Pandangan Rio beralih melihat Dimas yang terkantuk-kantuk dengan wajah super duper tak enak untuk dilihat.
“Loe kenapa Dims? Jangan mentang-mentang kalian kembar, yang satu bad mood yang satu ikutan bad mood juga”
“Bosen nungguin Michelle selesai baca bukunya. Baru kali ini gue ngdate sama cewek cuma diem-dieman”
“Loe di cuekin gitu?”
Dimas mengangguk.
Rio kembali tertawa dengan nasib dua adik laki-lakinya ini.
Dimas dan Digta sangat bertolak belakang. Yang satu senang berdiam diri, yang satu gak tahan lama-lama diam di satu tempat. Yang satu suka jalan-jalan, yang satu malas jalan-jalan.
Yang Rio heran, kenapa bisa kebetulan Dimas dan Digta punya cewek yang juga bertolak belakang sama mereka. Kalau mendengar cerita tentang Michelle atau Marcella dari mulut keduanya, dan Rio mencocokan dengan kriteria cewek Dimas dan Digta, rasanya kreteria cewek idaman Dimas itu ada di Marcella, sedangkan cewek idaman Digta ada di Michelle.

“Eh Dims, loe pernah cerita pengen punya cewek yang punya hobi sama kan?”
Dimas mengangguk.
“Loe juga kan Dig?”
Digta pun mengangguk.
“Kenapa kalian gak tukeran pacar aja sih?”
“Apa?”
Dimas dan Digta sama-sama terkejut.
Tukeran pacar? Maksudnya Dimas harus pacaran sama Marcella dan Digta pacaran dengan Michelle? Yang benar aja!
“Enak aja! Gue sayang banget tuh sama Michelle” tolak Dimas tak setuju.
“Iya, gue juga sayang banget sama Marcella” Ucap Digta yg tak mau kalah.
“Seenggaknya elo berdua pernah ada pengalaman pacaran sama orang yang sehobi sama kalian. Michelle suka baca kan? Dia juga suka ngarang-ngarang lagu, cocok banget sama Digta. Sedangkan Marcella suka banget jalan-jalan, cocok sama Dimas yang gak bisa diem”
Digta dan Dimas saling pandang. Mereka sebenarnya tidak mengenal baik pacar kembarannya sendiri, karena baik Dimas atau pun Digta belum pernah mengenalkan pacar mereka masing-masing.
“Kalian kan kembar identik. Susah lah bedain kalian. Michelle belum kenal sama loe kan Dig? Marcella juga belum kenal Dimas kan? Mereka gak akan tau deh”
Dimas dan Digta masih nampak terlihat ragu.
“Seminggu deh. Sekalian ngetes kalian juga. Bisa gak tuh bertahan sama cewek kalian masing-masing. Kalau kalian bisa tahan, dan gak bikin Michelle juga Marcella gak curiga motor gue boleh loe bawa deh seminggu deh Dims, dan Loe Dig, softwere musik gue boleh lo pake deh buat bikin satu lagu.Gimana?” Rio manaikan alisnya. Sedangkan Dimas dan Digta saling pandang. Jarang-jarang Rio mau meminjamkan barang pribadinya pada mereka. Digta dan Dimas melihat Rio tersenyum menantang.
“Seminggu aja kan?” Tanya Digta.
Rio mengangguk.
“Oke, gue setuju!” Ucap Digta yg menyetujui.
Tinggal Dimas yang masih tampak berpikir.
“Gimana Dims? Kalau elo gak setuju, Digta gak mungkin jalanin misi ini”
“Oke deh..” akhirnya Dimas setuju.

***

Hari pertama.

Dimas bilang setiap hari senin Michelle selalu meminta di antarkan ke perpustakaan dekat kantor balai kota. Sebelum jam kuliah Michelle selesai, Digta sudah siap sedia menunggu Michelle di depan gedung fakultas Michelle.
“Hay…”
Digta terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang menyentuh bahunya. Dilihatnya Michelle tersenyum padanya.
“Ehh emmm.. jalan sekarang?” Tanya Digta sedikit gugup. Ini kali pertama ia bertemu langsung dengan Michelle.
“Kamu kenapa?” tanya Michelle yang merasa ada yang aneh dengan sosok Dimas di hadapannya ini.
“Ehh emm.. Gpp kok. jalan sekarang yuk” Ajak Digta.
Sampailah mereka di perpustakaan yang dimaksud. Ternyata Digta yang notabene nya sering bolak-balik perpus kampus baru tau ada perpustakaan di daerah ini. Apalagi melihat tempatnya yang bersih dan luas. Pasti sangat nyaman berlama-lama di tempat ini. Apalagi melihat koleksi bukunya juga yang terhitung lengkap.
“Koleksinya lengkap juga ya Chelle” Ucap Digta sembari membuntuti Michelle yang sedang mencari buku,
Digta pun ikut melihat-lihat koleksi yang dimiliki perpustakaan ini.
“iyah” Jawab Michelle singkat. Gadis itu kembali membawa buku tebal yang dulu belum selesai dibacanya saat datang bersama Dimas.
Digta juga ikut mengambil sebuah buku dan duduk di sebelah Michelle.
“Tumben bawa buku"
"Ehh..." Digta menggaruk-garuk tengkuknya.
"Terus Biasanya juga kamu duduk di depan aku”
“Pengen duduk aja deket kamu. Hehehe..” jawab Digta ngeles. Emang Dimas gak pernah baca buku bareng Michelle sekalipun?
“Makan permen disini Gpp kan?” tanya Digta karena tadi ia sempat melihat tanda tidak boleh membawa makanan ke dalam perpustakaan.
“Boleh ajja”
Digta mengeluarkan permen karet dari dalam saku celananya.
“Mau?”
Michelle menggeleng. Mereka langsung tenggelam dalam dunianya masing-masing. Sampai akhirnya mereka pulang, Digta tak merasa Michelle curiga padanya.

Hari pertama Digta, Clear ✔

***

“Lihat deh. Bagus kan?” Dimas mengangguk kecil. Ia sangat terpukau dengan semua lukisan yang ada di pameran ini. Semuanya memiliki nyawa. Lukisan itu seolah bercerita tentang apa yang ingin diungkapkan pelukis dalam lukisannya itu.
“Panas nih. Aku beli es krim dulu deh diluar”
“Oke,,”
Dimas pun meninggalkan Marcella yang masih terkagum-kagum dengan lukisan yang sedang dilihatnya.
Jadi gini ya gaya pacarannya Digta?
Tak lama kemudian Dimas kembali menghampiri Marcella.
“Chelle, nih..”
Dimas menyodorkan es krim strawberry pada Marcella. Sedangkan ia sendiri memegang es krim rasa Coklat.
“Kamu gak lupa kan Dig kalau aku alergi Strawberry?”
Dimas tersadar. Ia bukan jalan dengan Michelle. Es krim strawberry kan memang eskrim kesukaan Michelle. Tadi pun ia sempat memanggil Cella dengan ‘Chelle’. Untung saja bunyinya sama.

“Ehh, maksudnya yang ini”
Dimas Menyodorkan es krim ditanga kirinya. Untung saja belum sempat Dimas jilat di jalan tadi.
Dimas kembali melihat Marcella tersenyum.
'Hufft, ungtung aja nama panggilan Michelle bunyinya sama dengan panggilan Marcella. Bisa gawat kalau sampai ketahuan' Batin Dimas.

Mereka kembali asik berjalan-jalan kesana kemari. Sesuatu yang jarang Dimas lakukan bersama Michelle.

Hari pertama Dimas, Clear ✔

***

Hari pertama sih oke-oke aja.
Hari kedua, lumayan seru.
Hari ketiga, Gak terlalu ngebosenin.
Hari keempat, Dimas mulai pusing dengan tingkah laku Marcella. Apalagi hari ini Marcella minta di temani belanja ke supermarket. Awalnya Dimas iya-iya saja. Marcella bilang mau belanja buat satu bulan. Paling Cuma beli makanan Ringan, makanan cepat saji, pokoknya barang-barang yang bisa di simpan dalam jangka waktu yang lama.
Tapi ternyata belanjanya Marcella tuh lama banget. Dia jalan kesana kemari, melihat produk apa yang akan dibelinya. Bukan hanya apa yang di prediksi Dimas, Marcella juga membeli segala macam yang tidak di duga-duga. Seperti piring, gelas, malah sampai ada panci di dalam trolly yang mereka bawa. Di tambah Marcella cerewet sekali. Dimas yang biasanya bicara ini itu, hanya diam di samping gadis itu sambil mendorong trolly. Berdeda sekali dengan Michelle yang kalem dan lemah lembut.
Dimas jadi berpikir lagi untuk terus menjankan rencana ini. Terserah dengan sepeda motor Rio. Yang pasti ia ingin sekali kembali secepatnya pada Michelle.

“Digta.. tolongin dong…”
Marcella berteriak dari ujung lorong. Dengan malas, Dimas menghampiri Marcella.
“Kenapa?”
“Bawain itu dong…”
Marcella menunjuk makanan cepat saji yang terletak paling atas.
“Nih”
“Oke.. kita ke...“
“Cell, kita istirahat dulu ya? Sumpah pegel banget nih kaki”
Dimas berharap Marcella mengiyakan permintaannya itu.
“Kamu cape Dig? Maaf, kenapa kamu gak bilang dari tadi?” Marcella terlihat menyesal.
“Apa kamu juga cape selama ini nemenin aku kesana kemari?”
Dimas menjadi merasa tidak enak.
“ehh.. enggak kok Cell. Aku baru capenya sekarang ajja”
“Ya udah, kita istirahat yah. Lain kali kalau kamu cape, bilang yah..”
Marcella mendorong trolly yang di pegangnya mencari tempat untuk duduk.
Sekarang Dimas mengerti, Digta hanya cukup meminta Marcella untuk beristirahat dan Marcella tak akan keberatan.

***

Digta menguap dua kali. Ia sekarang sedang berada di rumah Michelle. Ini sudah hari ke lima dari tantangan yang diberikan Rio. Ternyata dimana-mana Michelle tidak pernah lepas dari bukunya. Entah itu buku apa. Pantas Dimas bosan lama-lama jika terus dicuekin seperti ini.
Kebosanan Digta semakin lengkap saja dengan jarangnya Michelle berbicara. Memang saat Michelle bersama Dimas, Dimas lah yang sering mengajak Michelle bicara. Laki-laki itu bisa bicara semaunya. Walaupun terkadang Dimas berbicara saat Michelle sedang membaca, tapi Michelle selalu menangkap apapun yang diceritakan Dimas.
Digta jadi kepikiran Marcella. Sedang apa yah gadis itu? apa dia bahagia bersama Dimas? Bagaimana jika setelah semua ini berakhir, Marcella malah suka dengan sikap Dimas? Mereka kan sama-sama suka jalan-jalan.
Digta jadi rindu dengan senyum Marcella. Rindu melihat Marcella yang begitu bersemangat dengan segala sesuatu yang dilihatnya. Rindu dengan Marcella yang cerewet.
“Dimas…”
“Eh iya? Kenapa Chelle??”
Digta tersadar dari lamunannya.
“Aku pengen bilang sesuatu sama kamu”
“Apa?”
Digta terlihat bingung. Michelle nampak serius dengan apa yang ingin dikatakannya.
“Aku tahu kamu bukan Dimas”
Tentu saja itu membuat Digta terkejut. Digta jadi gelagapan sendiri. Ahh, bisa gagal semua rencananya dengan Dimas dan Rio.
“Hlo? Kok kamu ngomongnya gitu? Kalau bukan Dimas siapa lagi?”
Digta berusaha untuk tidak gugup.
Bagaimana ini? Kenapa Michelle bisa sampai curiga? Padahal mereka tidak terlalu sering komunikasi.
“Kamu Digta. Kembarannya Dimas”
Oh My God! Michelle benar-benar bisa menebak siapa dirinya.
“Dimas pernah cerita kalau dia punya saudara kembar dan namanya itu Digta"
"Emm, Chelle.."
"Gpp kok. Aku gak akan marah”
Digta tau ada kesedihan dari nada bicara Michelle.
“Aku kenal betul siapa Dimas. Ya Walaupun aku baru enam bulan pacaran sama dia. Dimas gak pernah tertarik sama buku-buku. Dimas gak pernah tahan untuk nunggu. Dimas gak makan permen karet dan yang paling penting, Dimas gak pernah 'gak bete' nunggu aku di perpus”
Digta menghela nafas. Ternyata Michelle begitu mengenal Dimas. Bahkan ia tidak tau kalau kakak kembarnya itu tidak makan permen karet.
“Maaf..”
“Gak perlu minta maaf. Aku tau Dimas bosan. Tapi dia selalu menunjukan kalau dia gak bosan. Mungkin sekarang Dimaa udah jenuh. Tolong bilang sama Dimas, Aku gak marah kalau dia mau jujur kalau dia bosen sama aku. Aku gak akan nahan dia”
Digta melihat Michelle tersenyum walaupun Digta bisa merasakan sakit yang di alami Michelle. Apa Marcella juga curiga pada Dimas?
“Kamu boleh pulang..”
Michelle sudah berdiri di ambang pintu, membukakan pintu untuk Digta.
‘Sorry Dims..’ batin Digta menyesal.
Pasti setelah ini akan ada yang berubah dengan hubungan Michelle dan Dimas.

***

“Dims..”
“Dig..”
Dimas dan Digta tersenyum.
“Loe duluan deh” Ucap Digta mengijinkan Dimas untuk bicara terlebih dahulu.
“Gue gak mau lanjutin ini semua. Ya walaupun tinggal dua hari lagi, gue mau mundur aja. Gue kangen sama Michelle..”
Mendengar nama Michelle, Digta jadi teringat apa yang ingin ia sampaikan pada Dimas. Bagaimana reaksi Dimas bahwa Digta sudah ketahuan?
"Dims Sorry,,”
Dimas mengerutkan keningnya. “Sorry? Emangnya loe salah apa sama gue?”
“Michelle.. Michelle..”
“Kenapa sama Michelle?”
“Michelle tau gue bukan elo”
“Apa?” Dimas terkejut.
“Michelle terlalu mengenal elo”
“Terus sekarang gimana?”
“Mending loe temuin dia sekarang. Michelle ada di rumahnya. Loe bilang sama dia, kalau loe gak bosen sama dia. Itu juga kalau loe masih sayang sama Michelle”

***

“Dimas?”
“Iya Chelle, Ini aku Dimas. Bukan Digta”
kali ini Dimas sudah berdiri di depan pintu rumah Michelle.
“Kamu udah denger pesanku dari Digta?”
Dimas terdiam.
“Aku tau kamu bosen sama aku. Kalau kamu mau kita pu…“
“Enggak Chelle, aku mau kita kayak dulu. Aku emang bete kalau harus nunggu kamu di perpus, tapi aku nikmatin saat-saat aku sama kamu”
“Lima hari aku bareng Marcella, pacar Digta, aku kahilangan kamu Chelle. Aku mungkin baru sadar kalau aku yang cerewet ini cocok sama kamu yang pendiem. Aku jadi gak sering jalan-jalan ngabisin uang karena kamu gak suka jalan-jalan. Cuma kamu yang bisa kontrol aku Chelle,, Kasih aku kesempatan sekali lagi yah?”
Dimas menatap Michelle penuh harap. Ia tau, Michelle yang tak tau apa-apa sudah tersakiti dengan tingkahnya ini.
“Okee, aku kasih kamu kesempatan..” jawab Michelle sembari tersenyum.
Senyum yang sangat dirindukan oleh Dimas.
“Makasih Chelle…”
Dimas langsung memeluk erat tubuh kekasihnya itu. Sampai kapanpun Michelle akan jadi yang terbaik untuknya.

***

“Cella cape…”
Cella menghentikan sepedanya dan menoleh ke belakang.
Digta sudah turun dari sepedanya dan duduk di aspal. Marcella kembali membawa sepedanya menghampiri Digta. Ia memarkir sepedanya di sebelah sepeda Digta, lalu duduk di sebelahnya.
“Nih minum dulu..”
Marcella menyodorkan sebotol air mineral pada Digta.
Kini Digta tidak perlu gengsi-gensi lagi sok kuat di hadapan Cella.
Semuanya berubah setelah Dimas menceritakan pengakuan capeknya pada Cella. Dan sampai sekarang Cella tidak tau jika dia pernah bersama dengan Dimas selama lima hari.

Komentar