Bunga P.O.V
Ini adalah sepenggal kisah tentang cinta yang tak terungkap.
Tentang hati yang selalu menunggu.
Tentang rasa yang tak pernah terucap.
Dan tentang cerita cinta yang tak tahu akan akhirnya. Atau bahkan cerita ini memang tidak pernah dimulai? Cerita yang aku biarkan terombang-ambing, tersapu oleh angin tanpa arah yang jelas. Termakan oleh waktu dan tersisih oleh rasa menyerah yang mulai menggerogoti hati.
Bertahun-tahun aku habiskan hanya untuk menata hati juga perasaanku. Yang pada dasarnya rasa ini memang tetap sama. Hati ini selau dengan lantangnya menyerukan namanya dan menyebutnya dalam setiap lantunan doaku, serta memimpikannya disetiap tidur lelapku.
Dulu.. Aku dan dia adalah sepasang sahabat yang selalu saling berbagi, saling menyemangati, dan saling melindungi.
Disaat aku menangis, dia pasti akan dengan sigap menghapus air mataku. Disaat dia terluka, aku akan dengan sabarnya mengobati setiap lukanya. Dan disaat orang lain mengganggu ketenanganku, dia akan langsung berdiri dihadapanku, membangun benteng pertahan yang mampu melindungiku dari ancaman apapun. Tapi, sekali lagi ku katakan, itu DULU! Dulu sebelum dia pergi, menjauh dari kehidupanku, meninggalkanku tanpa berusaha untuk memberi penjelasan apapun.
Terdengar klise memang. Tetapi inilah kenyataannya!
Sakit? Jelas!
Kecewa? Jangan ditanya!
Namun, sebisa mungkin aku berusaha untuk berpikir positif. Aku yakin suatu saat nanti, dia pasti akan kembali. Kembai menjadi Daffa yang dulu. Daffa yang aku rindukan. Yah-- aku yakin itu.
****
Author P.O.V
Seperti biasa Bunga berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah riang. Memberikan senyuman kepada setiap siswa atau siswi yang ia lewati. Entah mengapa, melihat mereka yang juga tersenyum kearahnya membuat kesan tersendiri dihatinya. Mungkin benar kata orang-orang bahwa 'Bahagia itu sederhana. Sesederhana saat kita melihat orang lain tersenyum karena kita.'
Bunga bergerak menaiki satu persatu undakan tangga karena kelasnya yang memang berada dilantai atas. Setelah sampai didepan kelasnya, mendadak langkahnya terhenti saat kedua bola matanya menangkap dua sejoli yang sangat terlihat-- Err. Mesra!
Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Rasanya sangat sulit sekali mendapatkan pasokan udara yang membuat paru-paru semakin terhimpit. Ditambah lagi dengan tangan-tangan tak kasat mata yang dengan semangatnya meremas-remas hatinya. Menciptakan rasa linu tepat diulu hatinya.
Bunga merasakan pandangannya muai kabur, terhalang oleh kaca-kaca bening yang ia yakini dalam sekali kedip akan meluruh membasahi pipinya. Tak ingin hal itu terjadi, buru-buru Bunga mendongak dan menutup matanya seraya menghela nafas lelah.
Perlahan Bunga kembali membuka matanya. Tepat! Saat kedua kelopak matanya sukses membuka sempurna. Pandangannya langsung bertemu dengan salah satu dari dua sejoli itu. Seakan terhipnotis, Bunga tenggelam dalam sorot mata yang menatapnya tajam.
Mata itu! Mata yang dulu sering menatapnya dengan tatapan sayang. Ahh-- mengingat itu lagi-lagi rasa nyeri kembali menjalar dihatinya. Tak ingin semakin larut dalam kerinduannya. Bunga membuang pandangannya kearah lain, memutuskan kontak mata yang sempat tercipta diantara mereka.
Masih pantaskah aku berharap saat ini?
****
Pemuda ini melangkahkan kakinya memasuki kelasnya yang masih sangat sepi itu. Ia melepar tasnya dengan asal keatas meja, lalu mendudukan tubuhnya diatas kursi, menelungkupkan wajahnya diantara lipatan tangannya dan berusaha untuk memejamkan mata sejenak.
"Daffa..."
"Damn!" umpat Daffa dalam hati. Baru saja ia ingin memejamkan matanya tapi ada saja yang mengganggunya. Ia mendongak, melihat seorang gadis cantik menghampirinya dengan sekotak bekal yang berada ditangannya. Gadis itu langsung saja menduduki bangku kosong disamping Daffa seraya memasang senyuman yang menurut Daffa sok manis.
Daffa mengalihkan tatapannya kearah kotak bekal yang dibawa oleh gadis itu. Merasa paham dengan tatapan itu, gadis tersebut membuka kota bekalnya.
"aku bawain kamu sarapan nih."
Daffa menggeleng. "aku gak laper, Lex."
Gadis yang dipanggil 'Lex' itu memberengut. Tapi ia tak menyerah untuk membujuk Daffa.
"ayolah sayang. Aku udah cape-cape buatin sarapan buat kamu, masa kamu gak ngehargainnya sih?"
Daffa mendengus sebal melihat tatapan sayu dari gadis yang berstatuskan kekasihnya ini, membuatnya merasa tak tega untuk kembali menolak. Akhirnya dengan sangat terpaksa ia mengangguk, yang langsung disambut oleh pekikan kegirangan dari Alexa.
Kalau saja bukan karena keselamatan Bunga, Daffa pasti sudah mengusir gadis ini untuk pergi jauh-jauh dari kehidupannya. Ya, semua ini karena Bunga. Beberapa bulan yang lalu Alexa memintanya untuk menjadi kekasihnya, jika ia tidak mau maka nyawa Bungalah yang menjadi taruhannya. Sebenarnya Daffa bisa saja menolak, namun ia tidak ingin gadis yang sangat disayanginya itu terluka.
Dan akhirnya, dengan berat hati Daffa bersedia menjadi kekasih Alexa, yang dengan sacara langsung pula membuat persahabatnnya hancur karena Alexa meminta Daffa untuk menjauhi Bunga.
Sentuhan lembut dibahunya menyentak Daffa kembali kealam sadarnya. Ia menoleh kearah Alexa yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung. Sedetik kemudian ia membuka mulutnya saat Alexa ingin menyuapinya.
"makasih... Sayang." Daffa menepuk-nepuk pelan puncak kepala Alexa, berusaha untuk berbuat semanis mungkin.
Merasa ada yang memperhatikannya. Daffa mengalihkan tatapannya kearah ambang pintu. Seketika tubuhnya menegang, melihat sosok gadis yang sering menghantui pikirannya itu berdiri mematung di ambang pintu seraya terus menatapnya dengan tatapan yang sangat mengguratkan kesakitan.
Lama ia menatap mata gadis yang dirindukannya itu, mencoba memberi kekuatan melalui sorot mata tajamnya. Hhh-- ia mendesah kecewa saat gadis itu memilih memutuskan kontak matanya.
Maaf.. Untuk luka yang aku goreskan dihatimu.
****
Tuhan...
Salahkah jika aku berharap?
Salahkah jika aku mencinta?
Salahkah jika aku mencoba bertahan?
Aku bagaikan seperti pungguk yang merindukan rembulan. Tapi sayang, rembulan itu tidak menginginkannya. Karena bahkan rembutan itu sendiri lebih memilih berdampingan dengan bintang yang nyatanya lebih mempesona.
Tapi aku tidak peduli. Aku tetap ingin menjadi pungguk Karena pungguk melambangkan arti kesetiaan yang murni. Betapa setianya pungguk menanti rembulan setiap malam hanya demi harapan rembulan dapat mendengar isi hatinya. Seperti aku saat ini, yang berharap dapat kembali bersamamu lagi-- Daffa.
Bunga melipat kertas yang berisi curahan hatinya itu, mengikatnya dengan tali balon, lalu menerbangkan balon itu berharap dapat tersampaikan kepada sang rembulannya.
Bunga meraih gitar akustik yang berada disebelahnya. Memetiknya perlahan hingga terdengar intro lagu seraya menatap bintang yang saling berlomba memancarkan cahayanya, bibirnya mulai bergerak menyanyikan sebuah lagu yang mewakili perasaannya saat ini.
(Sedih..
Ku tahu kini perasaanmu..
Kepadaku...)
Dengan semua sikap Daffa selama ini, Bunga memiliki keyakinan sendiri. Bahwa Daffa memang tak akan pernah bisa bersamanya lagi seperti dulu.
(Sedih..
Saat kau tak yakin kepadaku akan cintaku...
Jalan berliku..
Takkan membuatku,
Menyerah akan cinta Kita..
Tatap mataku..
Dan kau akan tahu..
Semuanya yang ku rasakan...)
Bunga memejamkan kedua matanya. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Meresapi setiap kenangan yang saling berkelebat didalam pikirannya.
(aku bertahan..
Karena ku yakin cintaku kepadamu..
Sesering kau coba tuk mematikan hatiku..
Takkan terjadi..
Yang aku tahu kau hanya untukku..)
Bunga kembali membuka matanya. Setitik air mata jatuh meluruh membasahi pipinya. Apa yang harus ia pilih sekarang? Tetap bertahan? Atau berhenti dan melupakan semuanya?
Hatinya memaksa untuk tetap bertahan, namun logikanya menolak. Memintanya untuk melupakan semua perasaannya terhadap laki-laki itu.
(aku bertahan..
Ku akan tetap pada pendirianku..
Sekeras kau coba tuk membunuh cintaku..
Yang aku tahu,
Kau hanya untukku...)
Dan kini, pilihan Bunga adalah-- tetap bertahan. Meski sangat mustahil bahwa ia tidak akan sakit hati. Namun setidaknya ia masih mampu untuk terus memperjuangkan cintanya. Dan untuk hasilnya, biarkan Tuhan yang akan menentukan nanti.
"aku bertahan-- untukmu."
****
Fin!
Komentar
Posting Komentar