Cinta Dalam Hati (One Shoot)

Title: Cinta Dalam Hati 
By: Anggi Muliawati 

**** 

--Ify-- : "Menunggu?" 
Aku terduduk dibangku yg telah disediakan tepat disisi lapangan. Mataku terus bergerak mengamati setiap gerak-gerik permainannya. Cara dia merebut bola dari tangan lawannya, mendrible, menshoot, lalu mencetak point, tak luput dari pandanganku. 

Aku sedikit menundukkan kepalaku, menatap kertas putih nan polos diatas pangkuanku. Perlahan aku mengangkat tangan kananku yg memegang sebuah pensil, dan mulai menggoreskan setiap garis lekuk wajah orang yg aku cintai diatas kertas putih itu.

Sesekali aku mendongak, menatapnya lalu kembali menekuni kegiatanku -melukis-
Kegiatan ini sudah menjadi hobiku, melukiskan sketsa wajahnya. Bukan! Bukan hanya dikertas putih saja, melainkan hatiku pun ikut serta melukiskan wajahnya.

Aku selalu memujanya, menatap dirinya penuh kagum dari kubik tak kasat mata yg menjadi pemisah antara aku dan dia.

Dia ibaratkan bintang yg bersinar diatas langit sana, yg dengan gagahnya memancarkan cahaya yg dimilikinya, membuat setiap orang yg melihatnya pasti akan berdecak kagum. Namun, hal itu pula lah, yg membuat aku sulit untuk meraihnya. Semakin aku berusaha untuk menggapainya, dia semakin terasa jauh. Jauh dari jangkauanku, jauh dari padanganku, bahkan jauh dari hatiku.

Dan akhirnya, disinilah aku berdiri. Berdiri pada sudut paling gelap tanpa sinar darinya, dengan harapan bahwa dia akan menoleh kearahku, menerangiku dengan sinarnya dan menghangatkan aku dengan cahanya.

Aku tersenyum melihat hasil sketsaku yg telah jadi hanya dengan hitungan beberapa menit. Aku mendongak saat sebuah suara memanggil nama pemuda yg selama ini aku tunggu.

"Rio--"

Beberapa detik berikutnya, aku malah disuguhkan dengan adegan yg bisa dibilang, Err-- mesra. Aku melihat jelas bagaimana perempuan itu mengusap peluh yg menetes dari dahi hingga turun ke pipi Rio.

Mataku mulai memerah, dapat aku rasakan kaca-kaca air mulai menghalangi penglihatanku yg dengan sekali kedip pasti akan langsung meluncur bebas membasahi pipiku dengan membentuk sungai kecil disana.

Aku terus menguatkan diriku untuk tidak menangis. Bukankah ini resiko yg harus aku terima, ketika memutuskan untuk tetap bertahan mencintainya meskipun dia tak pernah membalas rasa cintaku.

Sudah hampir 2 tahun aku menyimpan rasa ini, menunggunya dalam kegelepan tanpa ketidakpastian. Ahh! Bukan! Bukan dia yg tidak memberi kepastian. Jelas-jelas aku sudah tahu jawaban dari penantianku, tapi dengan bodohnya aku malah membutakan mata dan hatiku, serta menulikan telingaku hanya untuk menunggunya.

Aku tersentak kaget saat sebuah tangan kokoh menyentuh bahuku. Aku mengalihkan pandanganku dari adegan yg membuat hatiku semakin tersayat. Dengan senyum yg dipaksakan aku menatap sosok pemuda jangkung yg telah duduk disampingku. Aku dapat melihat peluh masih menetes didahinya, serta kaos yg ia gunakan sangat basah setelah tadi selesai bermain basket dengan pemuda yg kini bersemayam dipikiranku, menempati tahta tertinggi dihatiku, mengisi semua ruangan disudut hatiku tanpa berniat membaginya dengan yg lain.

"gak usah so kuat kalau nyatanya lo memang rapuh." Aku menatap Gabriel -sahabatku sedari kecil- dengan dahi berkerut. Aku menggelengkan kepalaku, berpura:-pura tak mengerti akan ucapannya.

"jangan pura-pura bodoh! Kerapuhan lo itu gak bisa lo tutup-tutupin."

"gue memang bodoh, tapi gue mencintainya." Dapat ku dengar pemuda disampingku ini berdecak kesal.

"Cihh-- slalu itu yg lo jadikan alasan."

"karena memang itu yg gue rasain. Gue hanya ingin belajar setia menunggunya."

Hening.
Gabriel tidak kembali membuka suaranya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitupun dengan aku. Aku larut dalam pikiranku, menyelami setiap rasa yg bermuara dihatiku. Mensiasati bahwa suatu saat nanti akan ada hasil dari penantianku.

"setia sama bego itu beda tipis, Fy." Gabriel meradang, menatapku dengan tatapan mengintimidasi.

"tapi gue cinta sama dia. Maka dari itu gue setia nunggu dia sampai bertahun-tahun, walaupun dia gak pernah melihat kearah gue." Gabriel menggeleng, pemuda ini mengacak-ngacak rambutnya, Frustasi.

"sampai kapan, Fy?" kedua alisku terangkat mendengar pertanyaannya. Seakan mengerti maksudku Gabriel kembali melanjutkan ucapannya.

"sampai kapan lo mau bertahan ditempat paling gelap Seperti ini. Berusaha untuk menyalurkan cinta lo dengan benang yg tak kasat mata yg lo buat sendiri.

Sampai kapan lo rela, hati lo terombang-ambing terbawa angin tanpa arah yg jelas?" Gabriel terus menatapku. Ia meraih kedua tanganku yg ku letakan diatas pahaku, menggenggamnya erat.
:

"mungkin--" nafasku tercekat. Suaraku terasa mengambang, entah mengapa sulit sekali mengeluarkan suara meski sekata dua kata. Dengan sekuat tenaga aku bersuara.
"--sampai, gue bener-bener lelah untuk bertahan."

Gabriel mendesah frustasi.
"Gue mohon, buka mata dan hati lo. Amati sekeliling lo. Lihat! Banyak orang diluar sana yg menanti cinta lo. Mengharapkan untuk bisa memiliki lo, termasuk gue-- tapi dengan bodohnya lo menutup itu semua hanya karena satu alasan yg malah membuat lo semakin sakit."

"gue tahu ini salah. Tapi salah jika gue mengharapkan Rio untuk bisa melihat kearah gue? Apa salah jika gue terus menunggu Rio dengan cinta yg gue punya?" Aku berusaha menatap balik kedua bola mata Gabriel. Terlihat pancaran luka dimata itu. Ya Tuhan, maafkan aku karena telah menyakitinya.

"disini gak ada yg salah. Yg salah itu keadaan. Keadaan yg memaksa kita untuk mencintai orang yg jelas-jelas gak mencintai kita."

"Yel--" aku berusaha menyela perkataan Gabriel. Namun, dengan cepat Gabriel memotongnya.

"gue sayang lo, Fy." Aku tersenyum tipis mendengar pernyataan cinta Gabriel. Sudah ku duga pasti akan seperti ini.

"gue tahu itu kok."

Gabriel semakin erat menggenggam tanganku. Seakan memberi sugesti bahwa hanya akulah satu-satunya gadis yg ia cintai.

"apa gak ada sedikit harapan buat gue bisa menggapai cinta lo?" Lagi-lagi aku tersenyum mendengar pertanyaan Gabriel. Bukan! Bukan aku tidak ingin memberinya kesempatan. Namun, hati ini yg enggan untuk berpaling dari pemuda yg telah 2 tahun aku cintai.

"Maafin Gue, Yel. Gue gak bisa."

****

--Rio-- : "Terlambat" 

Gue terus mendrible bols orange ditangan gue, melewati beberapa pemain lawan yg berusaha menghadang gue. Setelah dirasa posisi gue ini strategis. Gue mengangkat bola itu, mengarahkannya kearah ring yg jaraknya sekitar 2 meter dari posisi gue. Dengan sekali gerakan gue melempar bola itu dan-- Ya, masuk!

Sorak sorai terdengar disekeliling gue. Gue mengedarkan pandangan seraya tersenyum tipis kepada para penggemar gue. Sampai satu objeck menjadi daya tarik tersendiri untuk gue pandangi.

Kedua ujung sudut bibir gue tertarik, membentuk lengkungan manis diwajah gue saat melihat gadid yg diam-diam telah mencuri perhatian gue lebih dari 3 tahun ini.

Gue mengerutkan kening, melihat gadis itu tersenyum sendiri seraya menatap kertas yg berada dipangkuannya. Apa isi dari kertas itu?
Belum selesai gue menerka-nerka, sebuah suara dengan nada manja memanggil nama gue.

"Rio--" tanpa menoleh gue udah tahu siapa pemilik suara itu. Shilla 'cewek' gue.

"Ya ampun sayang kamu keringetan, pasti capek ya?" Shilla mengusap peluh didahi gue seraya menatap gue. Gue balas menatapnya dengan tatapan memuja. Sial. Lagi-lagi hati gue berontak untuk melakukan itu terhadap Shilla. Apa itu karena memang gue gak pernah mencintainya?

Asal kalian tahu saja, gue menjadikan Shilla sebagai kekasih gue bukan karena cinta. Tapi hanya untuk melampiaskan rasa gue terhadap gadis yg telah gue ukir namanya didalam hati gue. Brengsek? Iya! Gue emang brengsek. Tapi gue gak peduli itu.

Dari sudut ekor mata gue, gue terus mengamati gadis yg duduk ditepi lapangan yg kini tengah menatap kearah gue dan Shilla dengan tatapan yg, Err-- terluka!

Gue dapat melihat dengan jelas seorang pemuda menghampiri gadis itu. Tanpa gue tahu apa yg sedang mereka bicarakan.

Tapi seketika mata gue sukses membulat saat melihat tangan gadis itu digenggam oleh pemuda dihadapannya. Samar-samar gue denger kalimat yg bikin hati gue teriris benda tajam.

"Gue sayang lo, Fy." 

Dapat gue lihat Ify tersenyum, apa itu jawaban untuk pemuda dihadapannya? Sekaligus jawaban untuk rasa cinta gue.

Hati gue remuk. Hancur berkeping-keping tanpa menyisakan sedikit bekas apapun.

Seandainya gue gak pengecut. Seandainya gue punya sedikit keberanian yg cukup untuk mengutarakan perasaan gue, mungkin semuanya gak akan seperti ini.

Mungkin benar apa yg dikatakan orang-orang bahwa 'Penyesalan selalu datang Terlambat' dan itulah yg sekarang gue rasakan.

Gue terlambat! Benar-benar sudah terlambat!

****

Syalala?
Apa liat-liat? Gue kecew ya? Makasih-,- wkwk.
Selamat bergalau ria deh. Ehh. HAHA! *kabur*

@Anggimuliawati_



Komentar