Waiting (One Shot)

Hay.. Gue bawain cerpen nih. Kalau bisa bacanya sambil dengerin lagu Kerispatih - Bila Rasaku Ini Rasamu. Biar nyecep gitu. Ya, kalau punya itu juga. Kalau ngga, juga Gpp.

Oke deh, Selamat membaca!
****

Cerpen: Waiting (One Shot)
By: Anggi Muliawati

(Aku Memang Terlanjur Mencintaimu...
Dan Tak Pernah Ku Sesali Itu...
Seluruh Jiwa Telah Ku Serahkan..
Menggenggam Janji Setiaku...)

Apakah kalian tahu bagaimana rasanya menunggu? Bosan? Tentu! Dan itulah kini aku rasakan. Aku bosan untuk menunggu. Aku bosan melewati hari dalam kesunyian. Dan aku bosan selalu termenung tanpa henti, menanti sebuah keajaiban datang menghampiriku.

Hey! Kamu! Apa kamu tahu bagaimana perjuanganku untuk terus menunggumu? Apa kamu tahu bagaimana sulitnya aku untuk tetap mempertahankan hati ini? Sepertinya kamu tidak tahu itu. Bahkan mungkin, tidak akan pernah mau tahu.
Aku disini. Masih menantimu. Masih bertahan dengan cinta ini. Akankah kamu kembali? Kembali untuk merajut jalinan kasih bersamaku, seperti dulu? Ya, dulu. Dulu sebelum kamu pergi meninggalkanku. Dulu sebelum kamu lupa akan segalanya.

Sekelebat bayangan masalalu kembali datang menghampiriku. Menghantui disetiap jejak langkahku, seakan enggan untuk pergi. Bahkan terhapus dari ingatanku.
"Yah.. Hujan." Kamu menoleh kearahku saat mendengar gumaman lirihku. Dari kecil kamu selalu tahu bahwa aku sangat membenci hujan. Seketika itu pula tubuhku selalu lemah, jika terkena tetesan air langit. Dan dengan sigapnya, kamu memelukku. Memberikan sebuah kehangatan yang sampai kapanpu tidak akan pernah bisa aku rasakan dari yang lain. Hanya kamu! Ya, kamu! "Jangan takut. Ada aku disini." Kata-kata itu! Kata-kata yg selalu kamu ucapkan untuk menghiburku. Kata-kata yg sangat ampuh untuk menenangkan pikiranku.

Aku tertawa miris saat mengingat kenangan itu. Sekarang, disaat hujan itu datang. Siapa yg akan menghangatkan tubuhku? Siapa yg akan menenangkan dengan untaian kata-katanya? Tidak ada! Tidak ada lagi kamu sekarang! Kamu pergi-- Kamu meninggalkan semua kenangan itu bersamaku. Tanpa pernah ingin membawanya pergi bersamamu.
"Fy-- sampai kapan kamu mau seperti ini?" Pertanyaan itu yg selalu sahabatku ajukan. Dan lagi-lagi aku meresponnya hanya dengan mengangkat kedua bahuku atau dengan gelengan pelan dari kepalaku.
Sekuat tenaga aku selalu berusaha munafik. Berkata baik-baik saja, tapi tidak dengan hati ini. Aku tahu, aku memang egois karena selalu mencintaimu. Tapi itu semua diluar batas keinginanku. Jika aku boleh memilih-- aku tidak pernah mau mengenalmu, daripada aku harus selalu tersiksa dalam penantian ini.
Setiap kali aku berusaha membuka hatiku untuk yang lain. Disaat itu pula perasaanku menolak. Aku lelah! Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah menanti sesuatu yg tidak akan pernah pasti untukku dapatkan.

(Kumohon Jangan Jadikan Semua Ini...
Alasan Kau Menyakitiku...
Meskipun Cintamu Tak Hanya Untukku..
Tapi Cobalah Sejenak Mengerti...)

"Ify!" Tepukan dibahu kananku menyadarkanku dari lamunan tentangnya. Aku menoleh kearah sahabatku, terlihat sekali nafasnya memburu. Kedua bahunya naik-turun tidak beraturan, menandakan bahwa sahabatku telah berlari menghampiriku. Ada apa sebenarnya? Apa telah terjadi sesuatu yg tidak aku ketahui? Entahlah...

"dia--" seketika tubuhku menegang saat sahabatku mengatakan kata -DIA-
Aku terdiam menanti kelanjutan dari ucapan sahabatku yg sengaja dia hentikan beberapa saat untuk mengambil nafas. "--kembali." dan... Saat itu juga aku merasa ingin berteriak -Dia kembali-
Kalian tentu tahu bagaimana bahagianya aku saat mengetahui dia telah kembali. Aku seperti terbang ke langit ke tujuh. Mengepakkan kedua sayapku untuk terus menyusuri indahnya langit.

Aku berlari keluar kelas. Aku tak sabar ingin melihatnya. Apakah dia masih sama seperti dulu? Ya, aku harap begitu. Aku terus mengembangkan senyumku, saat membayangkan bagaimana reaksinya jika bertemu denganku.
Namun.. Seketika aku merasa dihempaskan kedasar samudera yg paling dalam. Bibirku bergerak menyerukan namanya meski terdengar sangat lirih. "Rio--" aku terpaku ditempatku berdiri. Beriringan dengan senyumku yg memudar. Dadaku sesak. Udara disekelilingku mulai menipis, saat aku melihat pemandangan yg benar-benar menyayat hati. Kamu kembali. Tetapi bersama yang lain.

Aku menekan dadaku kuat-kuat, berharap bisa mengurangi rasa sakit yg kini menjalar ke hatiku. Tiba-tiba pandanganku denganmu bertemu. Kamu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedangkan aku? Aku menatapmu dengan tatapan yg merindu.
Pandanganku lalu mengarah, kearah dua tangan yg saling bergandengan. Tangan itu! Tangan yg dulunya sering merengkuhku. Menggandeng mesra tanganku. Tapi sekarang? Tangan itu kini menggandeng tangan lain.
Cukup! Cukup sudah! Aku muak dengan semua ini.
Jadi ini? Ini akhir dari penantian panjangku?
Jadi ini? Jawaban dari semua pernyataan cintaku? Bodoh! Aku memang terlalu bodoh karena terus mengharapkanmu.

"Ify--" aku terhenyak saat suara itu menyerukan namaku. Suara yg sangat-sangat aku rindukan. Ahh.. Tidak-tidak! Aku tidak akan merindukanmu lagi. Tidak akan pernah!
"kamu jahat, Yo!! Kamu jahat!! Bertahun-tahun aku menunggu kamu disini-- menunggu kamu untuk kembali-- tapi apa? Kamu memang kembali. Tetapi bersama yang lain-- bukan kembali untukku." Aku berteriak histeris. Mengeluarkan semua gejolak amarahku yang selama ini aku pendam. "Fy, maaf." Cish. Apa dengan kata maaf, semua luka dihatiku akan sembuh begitu saja? Tidak! Luka ini akan membekas sampai kapanpun!

Aku memutar kembali tubuhku. Berniat untuk pergi. Pergi sejauh mungkin dari hidupnya. Aku sudah tidak ingin berangan-angan lagi tentangnya. Semuanya sudah Sangat teramat cukup! Ya, cukup menyakitkan. Cukup menoreh luka. Cukup membuatku seperti orang bodoh!
Sebelum aku melangkahkan kakiku untuk benar-benar pergi. Aku menolehkan kepalaku kearahnya. Lalu berucap lirih, sangat-sangat lirih. "aku berhenti!! Aku menyerah untuk tetap berusaha menggenggam tanganmu! Yang justru menggenggam tangan lain."

(Bila Rasaku Ini Rasamu...
Sanggupkah Engkau...
Menahan Sakitnya,
Terkhianati Cinta, Yang Kau Jaga...
Coba Bayangkan Kembali...
Betapa Hancurnya Hati.. Ini Kasih...
Semua Telah Terjadi...)







****

Jelek ya? Gaje bangetkan? Pasti lagi pada ketawa deh bacanya-,-

Like dan Komen ya! Thanks;)
@anggimuliawati_

Komentar

  1. Why? Kenapa setiap cerita nggantung?? Knp gk dibuat jadian aja... Kan nyesek.. Kenapa gk happy ending aja???

    BalasHapus

Posting Komentar