-Jangan Pergi- Chapter A : "Penyesalan"

Cerpen: Jangan Pergi 
Author: Anggi Muliawati 
Genre: Romantic, Adult young. 


Hay.. hay.. Hehe,, gue lagi iseng nih nulis-nulis cerita.. Karna gue udah sering buat cerita Dimschelle jadi sekarang gue mau buat cerita RiFy.. hehe,, buat Dimschellers tenang,, nanti gue bikinin kok yg Dimschelle.. 

Gue gak maksa kalian buat baca ini kok.. Karna gue nulis cerita hanya utk menyalurkan hobby gue ajja.. 

So,, Happy reading.. 
Hope like it.. ;) 

*** 
Chapter A: "Penyesalan" 

Menatapi jalan seolah tidak berujung, 
Hingga membuat langkah terhenti dan terdiam hanya untuk menatapinya saja. 

Terkadang sebesar apapun penyesalan dalam perjalanan hidup janganlah sampai menghalangi kita untuk terus dan terus berjalan meski harus tertatih sekalipun.. 
Karena sang waktu tidak 
pernah berhenti dan terus berlari mengikuti jalan takdirnya. 

*** 

Gadis ini menatap warna jingga yg kini telah menghiasi langit, lebih tepatnya di Ufuk Barat. Sungguh sangat indah dan elok sekali.. 

Pikirannya kembali melayang kekejadian seminggu yg lalu. Menyesal? Ya itulah yg ia rasakan sekarang. Menyesal karena telah mensia-siakan seseorang yg sangat ia cintai. 
Gadis ini menutup matanya. Berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Sangat teramat buruk!! Dan tak akan pernah ingin menjadi nyata. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu menghembuskannya. Perlahan ia kembali membuka matanya, dan... Ahh ini nyata!! ini bukan hanya sekedar mimpi.. 'Oh God apa yg harus ku lakukan...' desahnya pelan. 

*** 

Seorang gadis berwajah tirus melangkahkan tungkainya menyusuri koridor sekolahnya.Sesampainya di Kelas, ia mendapati sahabatnya memasang wajah berseri-seri, seperti seseorang yg tengah mendapatkan undian berhadiah. Ia pun segera menghampiri sahabatnya itu utk mengetahui apa yg sedang terjadi dgnnya. 

"Loe kenapa Shill?? Wajah loe berseri-seri gitu?? Kayanya loe lagi happy yah??" Tanyanya seraya duduk dibangku yg terdapat disebelah sahabatnya. 
"Ify.... Gue happy banget.... Akhirnya Fy, gue bisa jadian sama Rio.. Pangeran gue" Seru Shilla heboh. Sedangkan Ify?? Tak usah ditanya, Ia terdiam mencerna setiap kata yg keluar dari bibir gadis cantik dihadapannya ini. Apa tadi dia bilang? Jadian? Rio? 

"Sumpah Fy,, gue gak nyangka bgt kalo gue bisa pacaran sama Rio.. Ahh ini mimpi gue Fy.." Lanjut Shilla. Sepertinya ia belum menyadari perubahan pada wajah Ify. 
"Ya meskipun gue tau sih, dia belum bisa cinta sama gue,, tapi dia bilang, dia akan coba utk mencintai gue" Kembali Shilla melanjutkan ucapannya, merasa tak ditanggapi oleh lawan bicaranya, ia menoleh kearah samping kanan tempat beradanya sosok Ify. 
"Fy?? Loe kenapa?" Tanya Shilla membuyarkan lamunan Ify. Lantas cepat-cepat Ify menggeleng dan menarik kedua ujung sudut bibirnya membentuk senyum tipis. 
"Gue gpp kok Shil.." 

*** 

Ify bergegas berjalan menuju lapangan indoor sesaat setelah ia mendapatkan sebuah pesan singkat dari seseorang yg menyuruhnya pergi ke lapangan. 
Sesampainya dilapangan, pandangannya langsung menangkap sosok pemuda bertubuh tinggi atletis dgn tatanan rambut yg sedikit acak-acakkan namun sangat terkesan cool. Perlahan Ify berjalan mendekati sosok pemuda itu. 

"Iyel.." Panggil Ify. -Iyel- pemuda itu, menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Ia mendapati Ify telah berdiri tepat disebelahnya. 
"Ada apa sih Yel, loe nyuruh gue kesini?" Tanya Ify to the point. 
Saat Iyel hendak menjawab pertanyaan yg Ify ajukan, tiba-tiba.. 
"Yel..." sebuah suara Barithon memanggil namanya, lantas ia segera mencari asal suara tersebut. 

"Ehh.. elo Yo!!" Seru Gabriel. Rio segera menghampiri Gabriel dan seorang gadis.... Ify? 
"Mau ngapain sih Yel, loe manggil gue kesini?" tanya Rio. Ia melirik Ify yg berada tepat disebelah kirinya. Rasanya ingin sekali memeluk gadis ini, meyakinkannya bahwa hati serta cintanya hanya utk gadis ini. Ya hanya Ify pemilik hatinya. 

"Jadi loe juga nyuruh Rio kesini Yel?" Tanya Ify yg masih terlihat sangat bingung. Rio mendengus sebal, ia merasa bahwa Ify seperti tak menginginkan kehadirannya disini, atau mungkin bukan hanya ditempat ini, melainkan dikehidupan gadis itu. 
"Iya.. Gue kangen main basket sama kalian, dan sekarang gue mau kita main" Jawab Iyel dgn santainya. Ia kembali mendrible bola orange ditangannya. 
"Sorry gue gak mood" tolak Rio cepat. Ify terdiam, matanya terasa memanas. 
'Gak... gue gak boleh nangis' batinnya menguatkan. Ify melirik kearah Rio dgn ekor matanya. 
'Apa sebegitu bencinya elo Yo, sama gue? Sampai-sampai untuk bermain basket sama gue pun loe gak mau...' pikir Ify. 

"Ayolah Yo, sekali ini aja!! Gue kangen sama permain loe dan Ify" pinta Iyel. Rio menghembuskan nafas secara kasar. 
"Oke..Oke.. tapi untuk kali ini aja," 
Senyum sumringah langsung mengembang diwajah tampan Gabriel saat mendengar jawaban dari sahabatnya...Rio. kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Ify. 
"Gimana Fy? Loe mau kan?" Tanyanya dgn penuh harap. Ify pasrah, ia hanya dapat mengangguk pelan, tanda bahwa ia setuju. 
"Oke.. Kita mulai" 

Saat Rio hendak merebut bola dari tangan Gabriel, tiba-tiba... 
"Aww..." pekik Iyel. Rio dan Ify terlihat kaget saat melihat Gabriel merintih kesakitan dgn memegangi perutnya. 
"Loe kenapa Yel?" tanya Ify panik. 
"Duh... sorry guys, Gue kebelet. Hehe... gue ketoilet sebentar ya, kalian terusin aja mainnya" belum sempat Rio dan Ify menjawab, Gabriel sudah terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua. Ya hanya berdua. Hanya Rio dan Ify. 
'Maafin gue Yo, Fy.. gue terpaksa ngelakuin ini, gue hanya ingin kalian nyelesain masalah kalian.... Semoga takdir berpihak kepada kalian' Gumam Gabriel ketika ia telah berada diluar lapangan indoor. 

Hening. Tak ada yg berani menbuka suara. Yg terdengar hanya suara pantulan bola basket dgn lantai lapangan. 
Rio terus mendrible bola orange itu. Ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Semuanya sangat terasa sulit. Sulit untuk diterima. 

"Emm... Yo.." panggil Ify hati-hati. Rio bergeming, tak menjawab apapun. Ia masih terus mendrible bolanya dan hendak melakukan shooting, namun aktivitasnya terhenti saat mendengar pertanyaan Ify. 
"Kata Shilla... Loe udah jadian ya sama dia?" 
"Iya" sahut Rio cepat bahkan sangat terkesan dingin. 
Ify terdiam sesaat. Mencoba menetralkan hatinya. Ia menghela nafas panjang serta mencoba untuk tersenyum meski sangat terlihat dipaksakan. 
"Selamat Ya! Longlast buat kalian" Ucapnya lirih. 
Rio kembali bergeming. Ia lansung menatap Ify tepat dikedua manik mata indahnya. Perlahan Rio menutup matanya. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Serta ia kembali membuka kelopak mata elangnya. 
"Kenapa Fy..." gumam Rio lirih. Ia menundukkan kepalanya. Benar-benar tak sanggup menahan sakit yg kian menyayat hatinya. Sedangkan Ify? Ia menatap Rio yg menunduk dgn dahi berkerut. Ia sama sekali tidak mengerti apa yg sedang dibicarakan oleh Rio. 
"Kenapa? Kenapa apanya Yo?" 
"Kenapa sih loe harus ngbohongin perasaan loe?" 
"Perasaan? Maksud loe itu apa sih Yo? Gue bener-bener gak ngerti..." Rio mendongak menatap Ify. 
"Kenapa Fy? Kenapa loe gak mau jujur sama perasaan loe, kalo loe juga sayang sama gue? Kenapa Fy? Kenapa loe harus tutup-tutupin semuanya dari gue? Kenapa Fy?" 

Ify terdiam. Kini giliran ia yg menunduk, tak berani menatap mata elang Rio. Butiran-butiran air mata telah menumpuk dipelupuk matanya bersiap untuk segera meluncur. 
Rio memegang dagu tirus Ify. Lalu mendongakkan kepala Gadis cantik itu agar mau menatapnya. 
"Tatap gue Fy..." Pinta Rio. Dengan sangat terpaksa Ify harus menatap mata elang milik pemuda dihadapannya ini. 
"Bilang sama gue kalo loe juga sayang sama gue Fy..." Ify menggelang lemah. 
"Ngga... gu..gue... gak sayang sama loe dan gak akan pernah sayang" 
Rio mendecak sebal. Ia melepaskan pegangan dari dagu Ify, lalu menglemparkan bola basket secara asal hingga menimbulkan pantulan yg amat keras, menggemakan ruangan tersebut. 
"Sampai kapan sih Fy, loe mau ngbohongin perasaan loe?" 
"Yo, Gue...." Belum sempat Ify melanjutkan perkataannya. Rio sudah terlebih dahulu memotongnya. 
"Kenapa loe harus korbanin perasaan loe, kebahagiaan loe hanya demi sahabat loe? Asal loe tau Fy, akibat dari perbuatan bodoh loe itu, gue yg jadi korban Fy, gue...." Bentak Rio sarkastik. 
"Gak!! Gue gak ngorbanin perasaan gue maupun kebahagiaan gue.. Gue cuman mau Shilla memperjuangkan cintanya" Rio mengeratkan rahangnya. Amarah, kekecewaan serta kesedihannya telah memuncak. 
"Apa loe bilang? Memperjuangkan? Terus loe pikir gue gak berhak utk memperjuangkan cinta gue, cinta kita? Iya Fy?" 

Lagi dan lagi Ify terdiam. Ia benar-benar sudah tak mampu lagi untuk menjawab, air matanya telah meluncur bebas sedari tadi, membentuk sungai kecil dikedua pipi mulusnya. 
Perlahan Rio meraih tangan Ify lalu menarik tubuh mungil Ify kedalam dekapannya. Ify hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Toh ia juga tak mengelak bahwa ia merindukan dekapan pemuda itu. Rio mendekatkan bibirnya kearah telinga Ify. 
"Untuk yg terakhir Fy..." Ify masih terdiam, mencerna kalimat pendek yg Rio bisikan kepadanya. Terakhir? Apa maksudnya? 

Rio melingkarkan tangan kirinya dipinggang ramping Ify, dan tangan kanannya bergerak mengelus lembut rambut Ify. Berkali-kali Rio mendaratkan kecupan-kecupan kecil dipuncak kepala Ify. Sedangkan Ify? Ia membenamkan wajahnya didada bidang Rio. Mengeratkan pelukannya, seakan tak ingin berpisah dan berharap waktu dapat berhenti sampai disini. 
Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu, meluapkan kerinduan yg amat mendalam, membiarkan gejolak-gejolak cinta bergemuruh dihati masing-masing. Sampai akhirnya Rio melepaskan pelukannya, menelungkup wajah Ify dgn kedua tangannya, memandang setiap lekukan wajah cantik Ify. 
Ify pun melakukan hal yg sama. Ia menatap mata elang Rio, sudah tak terhitung berapa banyak air mata yg ia keluarkan kurang dari 1 jam ini. 
"Gue pamit Fy...." Rio menghirup udara yg sedari tadi terasa sulit ia dapatkan, lalu menghembuskannya secara pelan. 
"...dari hati loe" lanjut Rio seraya mengecup lembut kening Ify dan mulai beranjak meninggalkan Ify yg masih terdiam ditempat menatap kepergiannya. 

Tak bisa lagi mencintaimu.... 
Dengan sisi lainku.. 
Aku tak sanggup menjadi biasa.. 
Aku tak sanggup.... 
Tak ada satupun yg mungkin bisa.. 
Terima kau seperti aku.. 
Mohon jangan.. 
Salahkan aku lagi.. 
Ini aku yg sebenarnya... 
[Kerispatih-Aku Harus Jujur] 

To be continue. 
Yeye.. jelek yah? Haha.. Gue cuman iseng-iseng doang kok. Just for fun:) 

Follow @anggimuliawati_ 
Visit to my blog Anggimuliawati.blogspot.com 


Komentar