Seorang pria masih terduduk disebuah bangku dikoridor sekolah. Raut wajahnya terlihat letih dan sedih. Satu tangannya menenteng sebuah gitar akustik. Kemeja abu-abu khas sekolahnya,sudah sangat berantakan. Berkali-Gkali ia menatap sebuah ruang tak jauh dari tempat ia duduk,ruang redaksi mading. Sudah 2 jam lebih,ia termenung disini ditemani terik mentari,mengamati dedaunan yg terbang lembut beberapa centi dari permukaan tanah karena tiupan angin,lalu kembali jatuh perlahan. Koridor ini sudah sangat sepi,semua siswa mungkin sudah kembali kerumah masing-masing.
"hufftt" pemuda itu menghela nafas dan mengacak rambutnya, mungkin ia frustasi.
Ia kembali menunduk dalam,terpejam sejenak,menyembunyikan sorot matanya yg redup.
"Dimas?" seorang gadis mengagetkannya. Pemuda yg disapa Dimas pun mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"kok kamu...." belum selesai gadis itu berbicara, Dimas telah berdiri menghampirinya,ia memetik senar gitarnya,perlahan ia berjalan menghampiri gadis itu. Gadis yg sudah hampir 2 tahun ini berstatus sebagai kekasihnya. Gadis manis dgn lekuk tubuh sempurna,rambut yg terurai indah dan senyum menawan.
Dia hanya dia di duniaku
Dia hanya dia di mataku
Dunia terasa telah menghilang
Tanpa ada dia di hidupku
Sungguh sebuah tanya yang terindah
Bagaimana dia merengkuh sadarku
Tak perlu ku bermimpi yang indah
Karena ada dia di hidupku
Ku ingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa
Tuhan bantu ku tuk berubah
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia
Dimas menatap gadis itu,matanya seakan meminta suatu kepastian. Ia bernyanyi dgn tulus,berharap gadisnya ini mengerti apa yg ia maksud.
Sejenak keduanya terdiam,angin semilir mengusik keheningan yg tercipta.
"mm..makasih" seru gadis itu lirih.
"untuk?"
"lagunya,,"
"Ohh..oke.. Kamu kenapa sih,udah 1 minggu ini kamu terus jauhin aku. aku telepon diReject, smsm juga gak dibales, malah kadang nomer kamu gak aktif.." tanya Dimas lirih
"aku cuma.."
"kamu capek ya,ngadepin aku? Maaf ya.."
"nggak Dims,, bukan gitu."
"trus kenapa?" tanya Dimas lembut, gadis itu menunduk.
"salah aku apa?" tanyaDimas,telunjuknya mengangkat dagu gadis itu dan menatap matanya tajam.
"cukup Dims,.
cukup. jangan pojokin aku terus" bentak gadis itu.
"makanya kamu bilang donk,kamu kenapa?"
"Maaf,, aku gak mau ngebahas ini sekarang" jawabnya singkat lalu pergi. Baru beberapa langkah, Dimas berteriak. "EGOIS,KAMU EGOIS TAU GAK?? Aku udah lama Nungguin kamu. Nunggu supaya bisa ngomong sama kamu, selama ini kamu ngehindar, KAMU EGOIS TAU GAK??" Ucap Dimas yg tampak emosi, gadis itu pun berbalik.
"apa kamu bilang? Nunggu? Oh, jadi kamu sekarang ngomongin waktu nunggu.. Iya??" tanya gadis itu.
"2 minggu lalu kamu janji nonton sama aku 3 jam Dims, 3 jam aku tunggu kamu tapi kamu batalin gitu aja dengan alasan kamu ada jadwal manggung, minggu lalu kamu ngajakin aku dinner, aku nungguin kamu semalaman dicafe tapi kamu bilang gak bisa, kamu slalu ajja mentingin band kamu. BAND LO,SELALU BAND LO,IYA KAN?? Dims, aku tuh butuh kamu disamping aku, bukan cuma suara kamu yg kamu kirimin tiap malem,,bukan itu. Aku butuhnya Tuh Dimas aku" gadis itu berteriak sembari menangis, kekecewaan yg lama mengendap sekarang terkuak habis.
Untung sekolah sudah sepi saat itu, jadi pertengkaran sepasang kekasih ini tidak begitu mengundang perhatian.
"tapi kan,kamu seharusnya ngertiin aku..."
"selalu Dims, aku selalu ngertiin kamu, aku selalu coba untuk pahami keadaan kamu,tapi aku capek Dims.. Aku capek. Digta aja selalu ada waktu buat Alya, padahal dia satu band kan sama kamu"
"tapi aku kan leadernya.."
"TERUS APA MENURUT LO,GUE BANGGA DENGAN STATUS LEADER LO?? sekarang kalau kita ngomongin soal EGOIS, siapa yg lebih egois?? LOE YG EGOIS,TERSERAH, LOE MAU MILIH BAND LOE,ATAU APAPUN,,GUE GAK PERDULI" gadis itu pun berlalu pergi dgn tangisannya.
"Chelle, Michelleee.." Teriak Dimas yg memanggil-manggil nama kekasihya itu.
Sejenak ia berfikir, Benarkah tadi yang Michelle bilang 'capek'. Benarkah Michelle sudah capek jalanin semuanya, akankah kisahnya dgn Michelle berakhir seperti ini??
***
Satu minggu kemudian.
Tidak ada yg berubah, meski waktu terus menggulirkan detik yg berubah menjadi rajutan menit rangkaian jam dan perlahan berganti hari.
Michelle dan Dimas, belum juga melontarkan kata 'maaf'. Sahabat-sahabat mereka sudah berulang kali mencoba mendamaikan perang dingin antara keduanya, tapi hasilnya nihil.
Sampai tiba suatu sore, saat itu mendung sudah bergelayut diawan, mencurahkan hujan dgn derasnya. Angin berhembus kencang,menggoyangkan pucuk-pucuk cemara disebrang jalan. Langit berwarna kelabu pucat, sama seperti wajah Dimas yg sejak tadi siang berdiri dibwah guyuran hujan.
"Chelle, please maafin aku Chelle.." teriak Dimas tapi tak ada respon apapun. Jendela kamar di lantai 2 rumah mewah itu pun terus tertutup.
Dimas memutuskan untuk terus menunggu, ia merasa bersalah dan ingin segera memperbaiki hubungannya.
Beberapa waktu berselang, Tak lama sebuah mobil honda jazz biru meluncur kearahnya.
"Dimas, ngapain kamu disini?" Michelle segera keluar dari mobil itu dan segera menghampiri Dimas, tak urung dress merahnya pun ikut basah kuyup diterpa air hujan.
"Michelle ngapain sih ujan-ujanan?" seorang pemuda tampan menghampiri Michelle dan memayunginya.
"siapa dia?" tanya Dimas getir,meski badannya terasa dingin membeku tapi hatinya serasa dipenuhi api yg berkobar.
"Gue Billy, cowoknya Michelle" Jawab pemuda itu,
Dimas terdiam butuh waktu yg lama baginya untuk mencerna pernyataan Billy.
"Ohh gitu ya, yaudah maaf Chelle kalau gue ganggu. Selamat sore nona Michelle yg terhormat, permisi" Ucap Dimas sinis.
"Dims, Dimas tunggu biar aku jelasin semuanya. Dimas.." Michelle berlari mengejar Dimas, tapi Dimas terlanjur menjauh.
"Michelle dia siapa?" tanya Billy.
"gw mau masuk" jawab Michelle singkat dan langsung berlalu masuk kedalam rumahnya.
Air matanya sudah bersaing dgn derasnya hujan yg turun diluar sana.
Michelle langsung pergi menuju kamarnya, ia ingin segera membenamkan wajahnya menumpahkan air matanya pada bantal.
Setelah ia memasuki kamar,tak lama I-phonenya bergetar.
-satu pesan diterima-
from : Alya 'My Best Friend'
KETERLALUAN LOE !!! Dimas itu sepupu gue.
Tega ya loe khianatin Dia. Loe gak tau kan Dimas itu sayang bgt sama loe.
Maksud loe apa nyakitin dia? Mulai detik ini JANGAN PERNAH BILANG KALAU GUE SAHABAT LOE. Kita semua ada dipihak Dimas dan LOE SENDIRI.
KITA BAKAL CARIIN PENGGANTI LOE BUAT DIMAS YG SERIBU KALI LEBIH BAIK DARI LOE.
Tangan Michelle bergetar hebat,benarkah apa yg dibacanya tadi?
Alya sahabatnya juga ikut memusuhinya? Kenapa? Kenapa harus Michelle Yang disalahkan?
"Dimas selalu lupa sama gue, apa salah kalau sekarang gue nemuin kebahagian dan lebih milih Billy" batin Michelle. Ia terlalu sibuk menangis hingga ia lupa berganti pakaian dan tertidur dengan dressnya yg basah.
Esok harinya.
Sinar mentari memaksa masuk kekamar Michelle dari celah-celah jendela kamar Michelle, ia pun terbangun, saat matanya perlahan terbuka ia mendapati satu tangkai Mawar putih bunga favoritny tergeletak bersama sebuah kaset. Michelle tidak bersemangat untuk menyetelnya, hari ini hari minggu. seharian Michelle menghabiskan waktu didalam kamarnya.
Kadang ia tersenyum mengenang indah masa-masa bersama Dimas, lalu senyumnya memudar saat mengingat pertengkaran kemarin.
Setelah mentari hampir tenggelam, terdengar ketukan halus dipintu kamarnya.
"Chelle, tadi Billy telepon" seru suara mamanya dari balik pintu. Ia baru sadar bahwa malam ini ia ada janji dengan Billy.
Saat hendak mandi pandangan Michelle tersita oleh sebuah kaset yg diterimanya tadi pagi.
"kaset apaan ya?" gumamnya,dengan rasa penasaran ia pun segera menyetel kaset itu.
sedetik kemudian suara itu menyapanya, suara yang sangat ia kenal, suara yang selalu mengantarkannya dalam dunia mimpi yg indah setiap malam, suara orang yang tanpa sengaja telah ia lukai.
Aku sadari mungkin ini suratan takdirku
Kau dan aku tak mungkin bersatu
Walau hati trus menangis
Tak ku sesali semua kisah yang telah terjadi
Ku biarkan waktu menemani
Hati yang dirundung sepi
Maafkan kejujuran ku walau menyakitkan
Dan mungkin takkan bisa
Ku lupakan hingga akhir nanti
Ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Tak ku sesali semua kisah yang telah terjadi
Ku biarkan waktu menemani
Hati yang dirundung sepi
Maafkan ku kejujuran ku walau menyakitkan
Dan mungkin takkan bisa
Ku lupakan hingga akhir nanti
Ku ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Dan mungkin takkan bisa
Ku lupakan hingga akhir nanti
Ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Tak kan bisa ku lupakan
Hingga akhir nanti
Ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Michelle tertegun, tanpa diperintah air matanya meluncur mulus dipipinya,memori indah tentang pangeran hatinya itu pun tersusun kembali dalam ingatannya. Dimas...
Michelle ingat betul saat pertama kali Dimas menyatakan perasaannya, saat mereka menjadi pasangan Rama dan Sinta dalam drama musikal sekolah.
Lalu saat Dimas dgn konyol mati-matian belajar basket, hanya karena Michelle bilang kalau ia suka cowok pemain basket. Atau saat dgn bodohnya Dimas mencarikan es krim rasa ketan hitam yg jelas-jelas tidak ada, cuman gara-gara mau menuhin syarat Michelle sbg tanda permintaan maaf.
Banyak hal yg telah Dimas lakukan untuknya, tp dgn jahatnya ia selingkuh, hanya karena Dimas sibuk akhir-akhir ini.
Chelle,,
suara Dimas terdengar menyapa Michelle didalam kaset itu.
Nona Michelle ku..
Kamu benar Chelle, bukan,,bukan cuma suara aku yg kamu butuhkan.
Maaf Chelle,, maaf karena aku gak bisa jadi cowok yg baik buat kamu.
"gak Dims, kamu yg terbaik,,aku yg salah" bela Michelle dalam hatinya.
Suara Dimas tetap terdengar dari kaset yg diputar Michelle.
Makasih ya Chelle karena kamu udah sabar ngadepin aku selama ini.
Aku gak akan nyalahin kamu atas pilihan kamu, aku tau harusnya aku sadar dari dulu, kamu terlalu berharga untuk selalu dinomor dua kan.
Kamu terlalu berharga buat nunggu, aku gak sadar bahwa diluar sana akan banyak cowok yg siap bahagiain kamu lebih dari aku.
Aku bodoh dan karna kebodohan aku, aku memilih untuk pergi.
Aku pamit Chelle,, bukan karna aku pengecut. Bukan juga untuk lari, tapi aku takut. aku Takut, kalau aku akan semakin sulit untuk melepas kamu jika aku tetep disini.
karena Aku juga gak akan pernah bisa liat kamu bahagia bersama orang lain.
Malam ini aku berangkat ke London. Jaga diri kamu baik-baik yah, simpen kaset ini sebagai tanda kenang-kenangan dari aku. Semoga kamu selalu bahagia...
Aku sayang Kamu Michelle Ziudith.
Kaset itu berhenti, Michelle termenung. Keyakinan bahwa Billy lah cintanya kini runtuh. Ia ragu, Entahlah,, Billy yg datang dgn sejuta sanjungan,dgn sikapnya yg romantis. Atau Dimas cowok nyebelin yg sangat tulus menyayanginya.
Malam ini?! Secepat itu kah??
Ya kisahnya dgn Dimas memang telah tutup buku, dan kini disisinya sudah ada Billy, tapi mampukah Billy menggantikan Dimas, menggeser posisi Dimas yg telah bertahta dihatinya selama 2 tahun ini.
***
Michelle hanya mengaduk-aduk makanannya, pikirannya terus melayang kemasa lalunya. Masa tentang sosok itu, sosok yg lebih senang memberinya kaset dibanding coklat atau bunga.
Sosok yg lebihh senang mengajarinya bermain gitar dibanding nonton, sosok yg mengucapkan selamat malam dgn caranya sendiri, mengirimi Michelle suara indah lewat ponsel.
Sejenak Michelle merasa matanya panas, ia mencoba mengalihkan pandangannya dari Billy yg duduk dihadapannya. Matanya menyapu seluruh bagian cafe, ia baru menyadari ternyata cafe ini, cafe favoritnya bersama Dimas, cafe bernuansa alam alami.
Teratai mengapung indah di kolam cafe, bunga-bunga mawar berderet menghiasi jalan setapak, bahkan saat melirik kearah pintu ia seperti melihat Dimas sedang tersenyum membawa seikat Mawar putih seperti malam dinner mereka yg pertama dulu.
"hiks,hiks,hiks" Michelle terisak.
Sekuat tenaga ia menahan air mata penyesalannya tapi tak mampu..
Bukan, ternyata bukan ini yang Michelle mau, bukan pujian, bukan perlakuan istimewa bak seorang putri, bukan adegan-adegan romantis seperti dalam novel.
Michelle lebih suka ke danau melihat sunset, bermain layangan dipadang ilalang,membaca buku ditaman, bermain piano, asal semua itu dikakukan bersama Dima semua menjadi istimewa. Dan itulah, itulah yg Michelle rindukan.
"kamu kenapa Chelle?" tanya Billy dgn lembut.
"Gpp kok" Michelle menghapus air matanya.
"aku duluan Bill"
Michelle langsung pergi dgn tergesa-gesa dan mencari taksi.
"Chelle,, Michelle.." teriak Billy, ia berlari menuju mobilnya dan mengikuti taksi Michelle.
Taksi biru Michelle berhenti tepat disebuah bandara, Michelle melirik jam tangannya pukul 19.15.
Michelle segera keluar dan berlari ke dalam bandara, berkali-kali ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok Dimasa dikerumunan orang dgn koper-koper ditangan mereka.
"loe dimana sih Dims??" gumamnya resah dan gugup.
Michelle akhirnya menyerah, mungkin ia terlambat. Michelle pun terduduk lemas, kedua tangannya menutup wajahnya yg dibanjiri air mata.
"Hiks,, Dimas,,"
"apa Chelle??" jawab Dimas yg entah sejak kapan telah berdiri dihadapan Michelle.
Michelle menengadahkan kepalanya ke atas "Dimas.."
Michelle langsung memeluk erat Dimas, seakan tak mengizinkan Dimas sedikit pun beranjak dari sisinya.
"maafin aku Dims,,"
"Gpp kok Chelle" jawab Dimas dgn lembutnya.
"kamu mau kemana Dims?" tanya Michelle setelah melepaskan pelukannya
"Aku mau ke London Chelle, aku mau ngelanjutin study ku disana"
"terus??"
"terus apa?"
"hubungan kita gmana?"
keduanya kembali terdiam,bingung. Dimas sama sekali tidak siap membicarakan ini langsung dgn Michelle. ia blum siap kehilangan gadisnya itu.
"aku gak akan pergi, kalau aku denger dari mulut kamu sendiri, bahwa kamu sayang aku dan mau aku untuk tetep tinggal" Ucap Dimas.
"Michelle..." seru Billy yang baru datang, setelah tadi sempat kehilangan jejak taksi Michelle.
"Billy.."
"dia sebenarnya siapa sih Chelle??" tanya Billy gusar.
"Billy, seben..."
"Chelle aku gak suka sama sikap kamu yg kayak tadi, pergi gitu aja ninggalin aku cuma buat nemuin cowok ini" Potong Billy seraya Menatap sinis kearah Dimas.
"Bil, Dimas ini sebenernyaa..."
"Dimas, ayo cepet nak" panggil mamah Delly,
"yaudah Chelle, Gue pamit yah" Ucap Dimas sembari mengacak-ngacak rambut Michelle lalu tersenyum. Dimas menyeret kopernya dgn hati yg perih, akhirnya ia harus pergi..
"tante Delly.." teriak Michelle sembari berlari kecil.
Tante Delly menoleh.
"iya, kenapa Chelle??"
"Michelle mau minta izin tan,, Michelle mohon izinin Dimas utk tetap tinggal disini,nemenin Michelle" pinta Michelle seraya melirik kearah Dimas yg kini tersenyum lega.
"iya cantik tante izinin, lain kali jangan ngambek-ngambekan lagi yah, kalian kan udah gede" pesan tante Delly, Mamah Dimas ini memang sangat menyayangi Michelle.
"makasih tante"
tante Delly mengangguk.
Michelle berjalan kearah Billy.
"Bil, Dimas itu pacar aku, sebenernya kamu,mmm..."
"iya gue ngerti maksud loe Chelle" jawab Billy. lalu ia menghampiri Dimas.
"Sorry yah brow. Gue udah ganggu hubungan loe berdua"
"iya Gpp kok" jawab Dimas sembari menepuk bahu Billy.
"Dimas.." panggil Michelle.
Dimas tersenyum lalu menghampiri Michelle dan memeluknya.
"I Love You mata pandaku" bisik Michelle.
"I Love You too Pipi Apel" balas Dimas.
"Ekhemm, mupeng deh gue" celetuk Billy.
"HHAHAHAHAHA" Dimas dan Michelle tertawa kompak.
Tante Delly yg menyaksikan kejadian itu dari jauh hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu berguman.
"jadi inget waktu muda"
Dalam hidup..
Bukan sosok yang sempurna yang harus dicari,
Tapi sosok yang bisa menyempurnakan kehidupan kita..
Hingga mendapati kebahagiaan yang hakiki.
"hufftt" pemuda itu menghela nafas dan mengacak rambutnya, mungkin ia frustasi.
Ia kembali menunduk dalam,terpejam sejenak,menyembunyikan sorot matanya yg redup.
"Dimas?" seorang gadis mengagetkannya. Pemuda yg disapa Dimas pun mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"kok kamu...." belum selesai gadis itu berbicara, Dimas telah berdiri menghampirinya,ia memetik senar gitarnya,perlahan ia berjalan menghampiri gadis itu. Gadis yg sudah hampir 2 tahun ini berstatus sebagai kekasihnya. Gadis manis dgn lekuk tubuh sempurna,rambut yg terurai indah dan senyum menawan.
Dia hanya dia di duniaku
Dia hanya dia di mataku
Dunia terasa telah menghilang
Tanpa ada dia di hidupku
Sungguh sebuah tanya yang terindah
Bagaimana dia merengkuh sadarku
Tak perlu ku bermimpi yang indah
Karena ada dia di hidupku
Ku ingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa
Tuhan bantu ku tuk berubah
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia
Dimas menatap gadis itu,matanya seakan meminta suatu kepastian. Ia bernyanyi dgn tulus,berharap gadisnya ini mengerti apa yg ia maksud.
Sejenak keduanya terdiam,angin semilir mengusik keheningan yg tercipta.
"mm..makasih" seru gadis itu lirih.
"untuk?"
"lagunya,,"
"Ohh..oke.. Kamu kenapa sih,udah 1 minggu ini kamu terus jauhin aku. aku telepon diReject, smsm juga gak dibales, malah kadang nomer kamu gak aktif.." tanya Dimas lirih
"aku cuma.."
"kamu capek ya,ngadepin aku? Maaf ya.."
"nggak Dims,, bukan gitu."
"trus kenapa?" tanya Dimas lembut, gadis itu menunduk.
"salah aku apa?" tanyaDimas,telunjuknya mengangkat dagu gadis itu dan menatap matanya tajam.
"cukup Dims,.
cukup. jangan pojokin aku terus" bentak gadis itu.
"makanya kamu bilang donk,kamu kenapa?"
"Maaf,, aku gak mau ngebahas ini sekarang" jawabnya singkat lalu pergi. Baru beberapa langkah, Dimas berteriak. "EGOIS,KAMU EGOIS TAU GAK?? Aku udah lama Nungguin kamu. Nunggu supaya bisa ngomong sama kamu, selama ini kamu ngehindar, KAMU EGOIS TAU GAK??" Ucap Dimas yg tampak emosi, gadis itu pun berbalik.
"apa kamu bilang? Nunggu? Oh, jadi kamu sekarang ngomongin waktu nunggu.. Iya??" tanya gadis itu.
"2 minggu lalu kamu janji nonton sama aku 3 jam Dims, 3 jam aku tunggu kamu tapi kamu batalin gitu aja dengan alasan kamu ada jadwal manggung, minggu lalu kamu ngajakin aku dinner, aku nungguin kamu semalaman dicafe tapi kamu bilang gak bisa, kamu slalu ajja mentingin band kamu. BAND LO,SELALU BAND LO,IYA KAN?? Dims, aku tuh butuh kamu disamping aku, bukan cuma suara kamu yg kamu kirimin tiap malem,,bukan itu. Aku butuhnya Tuh Dimas aku" gadis itu berteriak sembari menangis, kekecewaan yg lama mengendap sekarang terkuak habis.
Untung sekolah sudah sepi saat itu, jadi pertengkaran sepasang kekasih ini tidak begitu mengundang perhatian.
"tapi kan,kamu seharusnya ngertiin aku..."
"selalu Dims, aku selalu ngertiin kamu, aku selalu coba untuk pahami keadaan kamu,tapi aku capek Dims.. Aku capek. Digta aja selalu ada waktu buat Alya, padahal dia satu band kan sama kamu"
"tapi aku kan leadernya.."
"TERUS APA MENURUT LO,GUE BANGGA DENGAN STATUS LEADER LO?? sekarang kalau kita ngomongin soal EGOIS, siapa yg lebih egois?? LOE YG EGOIS,TERSERAH, LOE MAU MILIH BAND LOE,ATAU APAPUN,,GUE GAK PERDULI" gadis itu pun berlalu pergi dgn tangisannya.
"Chelle, Michelleee.." Teriak Dimas yg memanggil-manggil nama kekasihya itu.
Sejenak ia berfikir, Benarkah tadi yang Michelle bilang 'capek'. Benarkah Michelle sudah capek jalanin semuanya, akankah kisahnya dgn Michelle berakhir seperti ini??
***
Satu minggu kemudian.
Tidak ada yg berubah, meski waktu terus menggulirkan detik yg berubah menjadi rajutan menit rangkaian jam dan perlahan berganti hari.
Michelle dan Dimas, belum juga melontarkan kata 'maaf'. Sahabat-sahabat mereka sudah berulang kali mencoba mendamaikan perang dingin antara keduanya, tapi hasilnya nihil.
Sampai tiba suatu sore, saat itu mendung sudah bergelayut diawan, mencurahkan hujan dgn derasnya. Angin berhembus kencang,menggoyangkan pucuk-pucuk cemara disebrang jalan. Langit berwarna kelabu pucat, sama seperti wajah Dimas yg sejak tadi siang berdiri dibwah guyuran hujan.
"Chelle, please maafin aku Chelle.." teriak Dimas tapi tak ada respon apapun. Jendela kamar di lantai 2 rumah mewah itu pun terus tertutup.
Dimas memutuskan untuk terus menunggu, ia merasa bersalah dan ingin segera memperbaiki hubungannya.
Beberapa waktu berselang, Tak lama sebuah mobil honda jazz biru meluncur kearahnya.
"Dimas, ngapain kamu disini?" Michelle segera keluar dari mobil itu dan segera menghampiri Dimas, tak urung dress merahnya pun ikut basah kuyup diterpa air hujan.
"Michelle ngapain sih ujan-ujanan?" seorang pemuda tampan menghampiri Michelle dan memayunginya.
"siapa dia?" tanya Dimas getir,meski badannya terasa dingin membeku tapi hatinya serasa dipenuhi api yg berkobar.
"Gue Billy, cowoknya Michelle" Jawab pemuda itu,
Dimas terdiam butuh waktu yg lama baginya untuk mencerna pernyataan Billy.
"Ohh gitu ya, yaudah maaf Chelle kalau gue ganggu. Selamat sore nona Michelle yg terhormat, permisi" Ucap Dimas sinis.
"Dims, Dimas tunggu biar aku jelasin semuanya. Dimas.." Michelle berlari mengejar Dimas, tapi Dimas terlanjur menjauh.
"Michelle dia siapa?" tanya Billy.
"gw mau masuk" jawab Michelle singkat dan langsung berlalu masuk kedalam rumahnya.
Air matanya sudah bersaing dgn derasnya hujan yg turun diluar sana.
Michelle langsung pergi menuju kamarnya, ia ingin segera membenamkan wajahnya menumpahkan air matanya pada bantal.
Setelah ia memasuki kamar,tak lama I-phonenya bergetar.
-satu pesan diterima-
from : Alya 'My Best Friend'
KETERLALUAN LOE !!! Dimas itu sepupu gue.
Tega ya loe khianatin Dia. Loe gak tau kan Dimas itu sayang bgt sama loe.
Maksud loe apa nyakitin dia? Mulai detik ini JANGAN PERNAH BILANG KALAU GUE SAHABAT LOE. Kita semua ada dipihak Dimas dan LOE SENDIRI.
KITA BAKAL CARIIN PENGGANTI LOE BUAT DIMAS YG SERIBU KALI LEBIH BAIK DARI LOE.
Tangan Michelle bergetar hebat,benarkah apa yg dibacanya tadi?
Alya sahabatnya juga ikut memusuhinya? Kenapa? Kenapa harus Michelle Yang disalahkan?
"Dimas selalu lupa sama gue, apa salah kalau sekarang gue nemuin kebahagian dan lebih milih Billy" batin Michelle. Ia terlalu sibuk menangis hingga ia lupa berganti pakaian dan tertidur dengan dressnya yg basah.
Esok harinya.
Sinar mentari memaksa masuk kekamar Michelle dari celah-celah jendela kamar Michelle, ia pun terbangun, saat matanya perlahan terbuka ia mendapati satu tangkai Mawar putih bunga favoritny tergeletak bersama sebuah kaset. Michelle tidak bersemangat untuk menyetelnya, hari ini hari minggu. seharian Michelle menghabiskan waktu didalam kamarnya.
Kadang ia tersenyum mengenang indah masa-masa bersama Dimas, lalu senyumnya memudar saat mengingat pertengkaran kemarin.
Setelah mentari hampir tenggelam, terdengar ketukan halus dipintu kamarnya.
"Chelle, tadi Billy telepon" seru suara mamanya dari balik pintu. Ia baru sadar bahwa malam ini ia ada janji dengan Billy.
Saat hendak mandi pandangan Michelle tersita oleh sebuah kaset yg diterimanya tadi pagi.
"kaset apaan ya?" gumamnya,dengan rasa penasaran ia pun segera menyetel kaset itu.
sedetik kemudian suara itu menyapanya, suara yang sangat ia kenal, suara yang selalu mengantarkannya dalam dunia mimpi yg indah setiap malam, suara orang yang tanpa sengaja telah ia lukai.
Aku sadari mungkin ini suratan takdirku
Kau dan aku tak mungkin bersatu
Walau hati trus menangis
Tak ku sesali semua kisah yang telah terjadi
Ku biarkan waktu menemani
Hati yang dirundung sepi
Maafkan kejujuran ku walau menyakitkan
Dan mungkin takkan bisa
Ku lupakan hingga akhir nanti
Ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Tak ku sesali semua kisah yang telah terjadi
Ku biarkan waktu menemani
Hati yang dirundung sepi
Maafkan ku kejujuran ku walau menyakitkan
Dan mungkin takkan bisa
Ku lupakan hingga akhir nanti
Ku ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Dan mungkin takkan bisa
Ku lupakan hingga akhir nanti
Ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Tak kan bisa ku lupakan
Hingga akhir nanti
Ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Michelle tertegun, tanpa diperintah air matanya meluncur mulus dipipinya,memori indah tentang pangeran hatinya itu pun tersusun kembali dalam ingatannya. Dimas...
Michelle ingat betul saat pertama kali Dimas menyatakan perasaannya, saat mereka menjadi pasangan Rama dan Sinta dalam drama musikal sekolah.
Lalu saat Dimas dgn konyol mati-matian belajar basket, hanya karena Michelle bilang kalau ia suka cowok pemain basket. Atau saat dgn bodohnya Dimas mencarikan es krim rasa ketan hitam yg jelas-jelas tidak ada, cuman gara-gara mau menuhin syarat Michelle sbg tanda permintaan maaf.
Banyak hal yg telah Dimas lakukan untuknya, tp dgn jahatnya ia selingkuh, hanya karena Dimas sibuk akhir-akhir ini.
Chelle,,
suara Dimas terdengar menyapa Michelle didalam kaset itu.
Nona Michelle ku..
Kamu benar Chelle, bukan,,bukan cuma suara aku yg kamu butuhkan.
Maaf Chelle,, maaf karena aku gak bisa jadi cowok yg baik buat kamu.
"gak Dims, kamu yg terbaik,,aku yg salah" bela Michelle dalam hatinya.
Suara Dimas tetap terdengar dari kaset yg diputar Michelle.
Makasih ya Chelle karena kamu udah sabar ngadepin aku selama ini.
Aku gak akan nyalahin kamu atas pilihan kamu, aku tau harusnya aku sadar dari dulu, kamu terlalu berharga untuk selalu dinomor dua kan.
Kamu terlalu berharga buat nunggu, aku gak sadar bahwa diluar sana akan banyak cowok yg siap bahagiain kamu lebih dari aku.
Aku bodoh dan karna kebodohan aku, aku memilih untuk pergi.
Aku pamit Chelle,, bukan karna aku pengecut. Bukan juga untuk lari, tapi aku takut. aku Takut, kalau aku akan semakin sulit untuk melepas kamu jika aku tetep disini.
karena Aku juga gak akan pernah bisa liat kamu bahagia bersama orang lain.
Malam ini aku berangkat ke London. Jaga diri kamu baik-baik yah, simpen kaset ini sebagai tanda kenang-kenangan dari aku. Semoga kamu selalu bahagia...
Aku sayang Kamu Michelle Ziudith.
Kaset itu berhenti, Michelle termenung. Keyakinan bahwa Billy lah cintanya kini runtuh. Ia ragu, Entahlah,, Billy yg datang dgn sejuta sanjungan,dgn sikapnya yg romantis. Atau Dimas cowok nyebelin yg sangat tulus menyayanginya.
Malam ini?! Secepat itu kah??
Ya kisahnya dgn Dimas memang telah tutup buku, dan kini disisinya sudah ada Billy, tapi mampukah Billy menggantikan Dimas, menggeser posisi Dimas yg telah bertahta dihatinya selama 2 tahun ini.
***
Michelle hanya mengaduk-aduk makanannya, pikirannya terus melayang kemasa lalunya. Masa tentang sosok itu, sosok yg lebih senang memberinya kaset dibanding coklat atau bunga.
Sosok yg lebihh senang mengajarinya bermain gitar dibanding nonton, sosok yg mengucapkan selamat malam dgn caranya sendiri, mengirimi Michelle suara indah lewat ponsel.
Sejenak Michelle merasa matanya panas, ia mencoba mengalihkan pandangannya dari Billy yg duduk dihadapannya. Matanya menyapu seluruh bagian cafe, ia baru menyadari ternyata cafe ini, cafe favoritnya bersama Dimas, cafe bernuansa alam alami.
Teratai mengapung indah di kolam cafe, bunga-bunga mawar berderet menghiasi jalan setapak, bahkan saat melirik kearah pintu ia seperti melihat Dimas sedang tersenyum membawa seikat Mawar putih seperti malam dinner mereka yg pertama dulu.
"hiks,hiks,hiks" Michelle terisak.
Sekuat tenaga ia menahan air mata penyesalannya tapi tak mampu..
Bukan, ternyata bukan ini yang Michelle mau, bukan pujian, bukan perlakuan istimewa bak seorang putri, bukan adegan-adegan romantis seperti dalam novel.
Michelle lebih suka ke danau melihat sunset, bermain layangan dipadang ilalang,membaca buku ditaman, bermain piano, asal semua itu dikakukan bersama Dima semua menjadi istimewa. Dan itulah, itulah yg Michelle rindukan.
"kamu kenapa Chelle?" tanya Billy dgn lembut.
"Gpp kok" Michelle menghapus air matanya.
"aku duluan Bill"
Michelle langsung pergi dgn tergesa-gesa dan mencari taksi.
"Chelle,, Michelle.." teriak Billy, ia berlari menuju mobilnya dan mengikuti taksi Michelle.
Taksi biru Michelle berhenti tepat disebuah bandara, Michelle melirik jam tangannya pukul 19.15.
Michelle segera keluar dan berlari ke dalam bandara, berkali-kali ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok Dimasa dikerumunan orang dgn koper-koper ditangan mereka.
"loe dimana sih Dims??" gumamnya resah dan gugup.
Michelle akhirnya menyerah, mungkin ia terlambat. Michelle pun terduduk lemas, kedua tangannya menutup wajahnya yg dibanjiri air mata.
"Hiks,, Dimas,,"
"apa Chelle??" jawab Dimas yg entah sejak kapan telah berdiri dihadapan Michelle.
Michelle menengadahkan kepalanya ke atas "Dimas.."
Michelle langsung memeluk erat Dimas, seakan tak mengizinkan Dimas sedikit pun beranjak dari sisinya.
"maafin aku Dims,,"
"Gpp kok Chelle" jawab Dimas dgn lembutnya.
"kamu mau kemana Dims?" tanya Michelle setelah melepaskan pelukannya
"Aku mau ke London Chelle, aku mau ngelanjutin study ku disana"
"terus??"
"terus apa?"
"hubungan kita gmana?"
keduanya kembali terdiam,bingung. Dimas sama sekali tidak siap membicarakan ini langsung dgn Michelle. ia blum siap kehilangan gadisnya itu.
"aku gak akan pergi, kalau aku denger dari mulut kamu sendiri, bahwa kamu sayang aku dan mau aku untuk tetep tinggal" Ucap Dimas.
"Michelle..." seru Billy yang baru datang, setelah tadi sempat kehilangan jejak taksi Michelle.
"Billy.."
"dia sebenarnya siapa sih Chelle??" tanya Billy gusar.
"Billy, seben..."
"Chelle aku gak suka sama sikap kamu yg kayak tadi, pergi gitu aja ninggalin aku cuma buat nemuin cowok ini" Potong Billy seraya Menatap sinis kearah Dimas.
"Bil, Dimas ini sebenernyaa..."
"Dimas, ayo cepet nak" panggil mamah Delly,
"yaudah Chelle, Gue pamit yah" Ucap Dimas sembari mengacak-ngacak rambut Michelle lalu tersenyum. Dimas menyeret kopernya dgn hati yg perih, akhirnya ia harus pergi..
"tante Delly.." teriak Michelle sembari berlari kecil.
Tante Delly menoleh.
"iya, kenapa Chelle??"
"Michelle mau minta izin tan,, Michelle mohon izinin Dimas utk tetap tinggal disini,nemenin Michelle" pinta Michelle seraya melirik kearah Dimas yg kini tersenyum lega.
"iya cantik tante izinin, lain kali jangan ngambek-ngambekan lagi yah, kalian kan udah gede" pesan tante Delly, Mamah Dimas ini memang sangat menyayangi Michelle.
"makasih tante"
tante Delly mengangguk.
Michelle berjalan kearah Billy.
"Bil, Dimas itu pacar aku, sebenernya kamu,mmm..."
"iya gue ngerti maksud loe Chelle" jawab Billy. lalu ia menghampiri Dimas.
"Sorry yah brow. Gue udah ganggu hubungan loe berdua"
"iya Gpp kok" jawab Dimas sembari menepuk bahu Billy.
"Dimas.." panggil Michelle.
Dimas tersenyum lalu menghampiri Michelle dan memeluknya.
"I Love You mata pandaku" bisik Michelle.
"I Love You too Pipi Apel" balas Dimas.
"Ekhemm, mupeng deh gue" celetuk Billy.
"HHAHAHAHAHA" Dimas dan Michelle tertawa kompak.
Tante Delly yg menyaksikan kejadian itu dari jauh hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu berguman.
"jadi inget waktu muda"
Dalam hidup..
Bukan sosok yang sempurna yang harus dicari,
Tapi sosok yang bisa menyempurnakan kehidupan kita..
Hingga mendapati kebahagiaan yang hakiki.
Komentar
Posting Komentar