Aku ingin Bahagia

Ada hari dimana dunia ini dimulai dan tentu akan ada hari dimana semuanya akan berakhir. Yasmin nama gadis remaja yg memulai hidupnya dgn bahagia namun berakhir dgn kepedihan. Tak dipungkiri, sebenarnya masih banyak hal yang tak pernah terpikirkan olehnya namun tentu saja Yasmin tak pernah menyadarinya. Dari awal yasmin sangat tau bagaimana perjalanan kehidupan, tak dapat di duga, tak pernah terlintas apa yang akan terjadi selanjutnya hingga tiba saatnya semua terungkap menjadi sebuah kejutan. Kejutan yang mungkin akan merekahkan senyuman atau malah membawanya ke dalam kelaraan. inilah yg dialami oleh Yasmin, hidup dikelilingi banyak hal yang kelam.

Serpihan luka itu belum juga habis ditelan bumi, luka itu semakin membawa yasmin ke dalam dunianya, menyeruakan betapa malangnya gadis ini.
Yasmin bahkan tak pernah berfikir bagaimana bisa ia bertahan dalam kegelapan yang selalu saja menyelimutinya. Ia rapuh! Ia lemah! Yasmin bukan batu karang yang hanya dapat diam dengan kokoh meskipun diterjang ombak setiap saat, yasmin hanya manusia biasa yang masih menyimpan sebuah perasaan, perasaan yang tak pernah orang lain mengerti. Hanya Yasmin. Yaa, hanya dia yang dapat memahami hidupnya. Bukan orang lain.

***

Satu bulan lalu Yasmin resmi menyandang gelar sebagai anak broken home. Iya, mereka yang menghancurkan gadis ini, membuatnya harus merasakan pahitnya perjalanan hidup. Yasmin baru berusia 18 tahun! Apa iya harus dia yang mengalami semua ini? Menderita di tengah-tengah kebahagiaan yang seakan membatasinya. Salahkah bila ia ingin memanjat dinding kebahagiaan itu untuk dirinya? Yasmin ingin bahagia. Hanya itu.

“Yas, sampai kapan lo mau jadi pendiem kayak gini? Kita semua kangen sama elo Yas”
Yasmin hanya terdiam, menatap lekat wajah orang di depannya.
“Yasmin please jawab!”
Yasmin masih saja termangu.
“Lo masih mikirin kejadian itu? Itu Cuma masa lalu yas, Cuma kenangan.”
Sontak mata Yasmin beralih menatap tajam ke arah pemuda ini.
“Apa lo bilang? CUMA? Cuma yang udah bikin gue jatuh kayak gini? Cuma yang udah bikin gue lupa rasanya bahagia? Cuma yang udah bikin gue terpuruk seakan gue nggak guna? Cuma lo bilang?? CUMAA???”sentak Yasmin yang tanpa sadar mengejutkan pemuda ini.
“Yas!! Maksud gue bukan itu ... Yas! Yasmin!”
Yasmin terus berlari meninggalkan pemuda itu. Ia benar-benar kalut. Ia Rapuh.
"Tuhaannn, aku tau aku merasa beda sekarang tapi haruskah? Haruskah aku menanggungnya sendirian??" Keluh Yasmin sembari terus berlari.
“ARRGGHH!!!” Teriak

Bersamaan dengan erangannya, hujan turun dengan lebatnya. Membasahi baju seragam yang tengah menempel pada tubuh Yasmin.
Kakinya semakin melemas hingga tanpa sadar Yasmin telah tersungkur di tengah-tengah jalan raya Yang tentunya telah berlalu lalang segala jenis kendaraan. Mereka terus membunyikan klaksonya, namun Yasmin masih tetap saja dalam posisinya, ia tak berbuat apa-apa, bukanya ia tak mau pergi, melainkan untuk menggerakkan kakinya saja ia benar-benar tak sanggup,
"haruskah aku mati di sini? Jika memang itu lebih baik maka aku akan dengan ikhlas menerima takdirku ini. Yang jelas, aku ingin berakhir" Ucapnya disela-sela isakan tangisannya.
“Yasmin!! Lo ngapain disitu Yas??"
sebuah teriakan terdengar begitu samar di telinga Yasmin. Selanjutnya, semua menjadi .... gelap.

***

Sebuah cahaya menyilaukan, Yasmin mengerjap sejenak dan mendapati ruangan serba putih dengan jendela terbuka di sebelah kanan ruangan. Sekali lagi, Yasmin tak pernah tau ini dimana. Apa yang terjadi? Yasmin mulai mencerna kejadian sebelumnya. Ah iya, saat itu Yasmin mendengar seseorang meneriakkan namanya namun belum sempat ia menoleh, semua menjadi gelap gulita begitu saja. Lalu? Yasmin tak ingat apa-apa.

“Lo udah bangun?”
Yasmin menoleh ke arah sumber suara dan mendapati pemuda itu tersenyum lega ke arahnya.
“Gue dimana?”tanya Yasmin dgn suara parau. Sepertinya kehujanan itu membuat ia sedikit sakit.
“Lo di rumah sakit.”
Yasmin manggut-manggut bertanda mengerti dgn jawaban pemuda itu.
“Mama gue lagi nyari makan,” Lanjutnya yang sontak membuat Yasmin mendengus sebal.
“Kenapa?”tanya pemuda itu heran melihat perubahan ekspresi wajah Yasmin.
“Gue mau pulang!” Ucap Yasmin dgn ketusnya.
“Lo baru aja sadar, nggak mungkin gue ngizinin lo pulang” balasnya.
“Buat apa?”tanya yasmin sesak.
“Maksud lo?”
“Buat apa lo bawa gue ke sini? Buat apa Ren? Nggak ada yang peduli sama gue Ren! NGGAK ADA!!!”
Tanpa terasa cairan bening ini terus mengalir tanpa dapat Yasmin cegah.
“Siapa yang bilang nggak ada yang peduli sama elo? Gue peduli sama elo Yas!! Peduli!!!”
“Tapi mereka enggak Ren,. mereka enggak pernah ngertiin gue, mereka Cuma bisa ngurusin keegoisan masing-masing. Gue benci sama mereka Ren, benciii...”
tangis Yasmin semakin pecah. Reno 'pemuda itu' segera merengkuh Yasmin kedalam pelukannya.
“Ada gue Yas, gue,” bisi Reno dgn lembutnya. Yasmin tak dapat berkata lagi, tenaganya cukup habis karena hujan itu.
Sejurus kemudian yasmin kembali terlelap, tapi bukan tertidur. Yasmin hanya memejamkan mata tanpa mempunyai tenaga sedikitpun untuk mengangkat kelopak matanya. Yasmin mendengar sayup-sayup mama Reno datang dan menanyakan apa yang terjadi.
“Yasmin kenapa Ren?” Tanya Mama Delly.
“Tadi Yasmin udah sadar mah tapi labil lagi gara-gara inget kejadian itu,” Jawab Reno dengan lirih.
"Yasmin akan baik-baik aja, kamu tenang aja”
“Iya mah Reno nggak mau kehilangan Yasmin”
Lagi-lagi Yasmin meringis saat mendengar ucapan Reno. Dia terlalu baik untuknya.
“Yaudah kamu jagain Yasmin ya, mamah mau pulang dulu”
Reno hanya mengangguk.
Gesekan antara high heels mama Delly dengan lantai terdengar sampai ke telinga Yasmin.
Setelah langkah itu semakin jauh, Reno mendekati Yasmin perlahan, lalu mengusap pelan puncak kepala Yasmin. Yasmin masih belum bisa membuka mata sepenuhnya.
“Gue enggak mau lo terluka, seandainya gue bisa gantiin posisi lo sekarang pasti udah gue lakuin dari awal" bisik Reno.

***

Hari ini Yasmin akan pulang, Hah pulang? lebih tepatnya kembali ke rumah Reno. Tadi pagi Yasmin memaksa mamah Delly untuk memperbolehkannya pulang, dan mamah Delly mengizinkan, hanya saja Yasmin harus kembali ke kediaman Moeharyoso, Mamah Delly pasti tau kalaupun Yasmin pulang ke rumahnya, orang tuanya tak akan memperdulikannya.
“Reno, antar Yasmin ke kamar.”
Reno menganggukan kepala lalu menuntun Yasmin ke kamar.
Sesaimpainya dikamar, Yasmin terduduk ditepi kasur.

“Kamarnya Bagus"
Reno hanya tersenyum.
“Ya udah lo ganti baju dulu sana, gue ambilin lo makan ya terus lo minum obat.”
Yasmin terkikik pelan melihat Reno yang berubah menjadi cerewet.
“Nggak usah, ntar gue ke bawah sendiri, kita makan bareng,”ujar Yasmin. Reno mengembangkan senyumnya.
“Sips! Oke nona cantik, gue ke bawah dulu.”
Yasmin mengangguk.
Reno semakin melangkah jauh. Yasmin menghela nafas panjang, kepalanya masih terasa pusing! Tiba-tiba darah segar keluar begitu mulus dari hidungnya. Mungkin Yasmin terlalu lelah.

***

Biarkan aku bertahan
Meski ini sulit..
Ijinkan aku meraih semua
Kebahagiaan..

Andai saja..
Aku masih sempat merasakanya
Hingga kini aku sering bertanya
Mengapa harus aku?

Yasmin menatap pantulan wajahnya di depan cermin, memperhatikan wajahnya yang semakin tak karuan setiap harinya. Panah-panah lara yang dulu sempat Yasmin hindari selalu kembali menyerangnya dari belakang,

'ah mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang terjebak dalam kisah khayal ini? Apa aku pernah melewati suatu kontes hingga kini aku harus bertarung dengan lawanku? Tidak! Aku tak mengerti dengan keadaanku sekarang. Aku semakin... semakin kacau, tak adakah kata yang lebih tepat menggambarkanku sekarang?'

“Yas..” Suara itu berhasil menyadarkan Yasmin dari lamunannya,
“Eh elo Ren” ujar Yasmin menatap Reno yang kini berada di ambang pintu.
“Udah cantik, nggak usah diri sendiri kayak gitu deh” canda Reno.
Yasmin hanya terkikik pelan.
“Ayo makan, mamah udah nunggu di bawah”
Yasmin mengangguk lalu menghampiri Reno dan menguntitnya menuju lantai bawah.
Sesampainya di bawah, sudah ada om Ardi dan tante Delly. Mereka tersenyum menyapa Yasmin. Lalu Yasmin dan Reno duduk berdampingan. Reno begitu akrab dengan kedua orang tuanya, sama seperti Yasmin dulu. Iya, DULU. Sebelum wanita itu masuk ke dalam hidupnya dan menghancurkan segalanya, ia telah merubah total dunia gadis ini, seperti sekarang ini.
“Gue ambilin yah Yas” Reno begitu perhatian terhadap Yasmin. Cuma Reno yang Yasmin kenal saat ini, Ya Reno Anggara. Dia adalah idola di sekolah Yasmin, bahkan Yasmin sempat terheran mengapa Reno mau berteman dengannya disaat semua orang mulai menghindarinya hanya karena ia terlahir dari keluarga broken home.

“Makan Yas”
Yasmin buru-buru mengalihkan pandangannya dari wajah Reno. Lalu mengangguk dan pura-pura sibuk makan.
“Gue seneng liat lo udah mulai sehat gini” ujar Reno.
“Reno jangan ngobrol saat makan” Tante Delly memperingatkan Reno yang terus saja berbicara.
“Iya mah”
Lagi-lagi Yasmin dibuat iri dengannya. Bahkan dulu tak pernah sekalipun Mamah menyuruhnya diam ketika makan, ia malah membiarkan Yasmin berbicara tanpa ia mau mendengar begitu pula papah. Ahh 2 orang itu beserta wanita itu yang telah membuat Yasmin hancur.
'Aku benci kalian! Dan ternyata aku menyesal telah mengenal kalian' Desis Yasmin dalam hati.

***

Pintaku hanya satu
Bahagia..
Satu kata saja namun cukup berarti
Seandainya aku harus mati
Ijinkan terlebih dahulu aku untuk bahagia..
Walau hanya sebentar
Seperti satu tetes hujan
Sesaat namun penuh manfaat..

Aku ingin itu..
Satu kali saja...
Sebelum keputus asaan mampu merengkuhku..

Yasmin menatap langit dari balkon kamar. Di sana hanya ada satu bintang, bintang itu sendirian, kesepian dan sepertinya tengah berusaha tegar. Sama seperti Yasmin. Namun Yasmin dan bintang tentu berbeda, bintang lebih baik dibanding dirinya, setidaknya sekarang ia mampu mencuri perhatian, ketimbang Yasmin yang tak pernah mendapatkan perhatian dari siapapun.
"Hufftt" tanpa sadar Yasmin menghela nafas panjang. Kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika sedang jenuh. Ya, Yasmin jenuh dengan hidupnya sekarang. Sampai kapan ia harus terbenam diantara orang-orang yang sama sekali tak mengerti nya?

“Bintang nggak sendiri, di sana masih ada bulan yang setia sama bintang itu. Sama kayak gue yang selalu siap jadi sahabat lo”
Yasmin menoleh dan mendapati Reno tersenyum padanya.
“Gue selalu percaya lo bisa kayak bintang, lo bisa bikin orang lain tersenyum karena kegigihan lo, ketegaran lo dan kehebatan lo yang mungkin orang lain nggak akan bisa seperti elo Yas” ucap Reno tanpa mengalihkan pandanganya dari bintang itu.
“Lihat! Dia emang satu tapi bulan juga satu, itu artinya mereka akan saling melengkapi. Bulan gak akan berguna jika tidak ada bintang karena bulan mendapatkan cahayanya dari bintang, lalu bintang sama saja, ia tidak akan berguna jika bulan tidak ada, karena bintang gak akan sanggup memancarkan cahayanya sendirian untuk tempat seluas ini. Dan gue harap, gue sama elo bakalan kayak bintang dan bulan yang saling membutuhkan” Tambah Reno.
Yasmin hanya terdiam mencerna kata-kata Reno.
“Gue bakalan ada buat lo, kapanpun. Sama kayak tongkat yang selalu menopang seseorang saat dia nggak bisa jalan. Gue rela jadi tongkat buat elo”
Lagi-lagi Yasmin hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Namun air matanya kembali mengalir dalam diam, Reno yang melihat malah melanjutkan ucapannya.
“Lo boleh nangis sampe lo puas tapi gue harap setelah itu lo akan selalu tersenyum”
“Hiikksss, hiikkkss...” tangis Yasmin semakin menjadi. Hingga lagi-lagi hidungnya mengeluarkan cairan merah kental itu.
“Yas,, Yasmin?” Reno mulai panik saat melihat Yasmin seperti itu. Dia memeluk tubuh Yasmin.
Reno tidak tau harus berbuat apa hingga akhirnya Reno memutuskan untuk merengkuh tubuh Yasmin kedalam dekapannya.
“Please jangan buat gue khawatir” Bisik Reno tepat di telinga Yasmin
Namun Reno merasakan tubuh Yasmin mulai melemas. Mata Reno sontak membulat, ia sangat takut kehilangan Yasmin.
Takut... kehilangan sahabat sejatinya, lebih tepatnya Cinta sejatinya.

***

Satu kali lagi
Aku berucap ingin bahagia
Kembalikan kepingan kebahagiaanku
Walau aku sadar waktuku tak lagi lama.

Entah..
Aku seakan tersengat listrik
Yg guncangannya begitu dahsyat
Hingga aku tau..

Tuhan..
Apa kau ingin mengambil nyawaku saat ini juga?

Bau obat dimana-mana, membuat Yasmin semakin enggan untuk bernafas. Ia di rumah sakit lagi? kepalanya terasa sangat pusing, Yasmin melirik kesebelah kanannya dan Ia mendapati Reno dan tante Delly tertidur di soffa.

Yasmin semakin memalukan di depan mereka. Selalu saja menyusahkan malaikat itu.

“Yasmin? Sudah sadar?” Ucap Om Ardi yg muncul dari bilik pintu. Sesaat kemudian Reno dan tante Delly terbangun dari tidurnya.
“Yasmin?” Ucap Reno.
Yasmin hanya tersenyum miris lalu melirik amplop cokelat dicover depannya bertuliskan ‘Yasmin Diandra’ yg tengah berada dalam pegangan tangan Om Ardi.

“Itu apa om?” Tanya Yasmin yg penasaran.
Om Ardi mendadak menjauhkan benda itu dari Yasmin.
“Nggak, bukan apa-apa kok nak” jawab om Ardi sedikit gugup.
“Tapi tadi Yasmin liat itu berkas bertuliskan nama Yasmin om” Ucap Yasmin.
“Emm inii...”
“Apa Om?”
Reno dan tante Delly ikut mendekat serta merasa penasaran. Reno menatap curiga ke arah om Ardi begitu pula tante delly.
Yasmin benar-benar tak mengerti, 'ada apa sebenarnya?'
“Om akan kasih tau, tapi kalian jangan kaget yah, terutama kamu Yasmin...” ucap Om Ardi sedikit ragu.
Yasmin hanya mengangguk.

“Sebenarnya Kamu..." Om Ardi masih nampak ragu utk mengatakannya.
"Sebenarnya apa pah?" Tanya Reno.
"Sebenarnya Yasmin menderita kanker otak stadium akhir dan umur Yasmin tidak bisa diperkirakan lagi” Jelas om Ardi yang mampu membuat Yasmin, Reno dan Tante Delly tercengang.
“Om nggak salahkan?” Tanya Yasmin memastikan.
Om Ardi hanya terdiam, tak mampu menjawab.
“Nggak! Papah BOHONG!!! Yasmon nggak akan ninggalin Reno” bentak Reno yang membuat Yasmin menoleh ke arahnya.
“Reno, suutttt diam sayang,” ucap tante Delly lembut.
“Gue nggak mau lo pergi Yas, nggak mau, gue gak akan pernah sanggup untuk kehilangan lo” ucap Reno dengan mata sembab.
"Gue mohon Yas jgn pernah tinggalin gue" Pinta Reno.
"Ren, umur manusia gak ada yg tau, meskipun nanti gue udah nggak ada, jgn lupain gue yah"
"Nggak Yas, sampai kapanpun lo akan slalu jadi bagian terpenting dalam hidup gue, karna gue sayang lo"
"Makasih Ren, lo adalah sahabat sekaligus keluarga buat gue" Lirih Yasmin dengan suara Paraunya.
"Sama-sama Yas, gue seneng bisa jadi sahabat lo"
Yasmin tersenyum tipis.
"Om tante maafin Yasmin yah, jika selama ini Yasmin slalu menyusahkan om dan tante"
"Ngga sayang, kamu gak pernah nyusahin om dan tante, kamu udah tante anggap sebagai anak tante sendiri" Ucap Tante Delly sembari menyekat air matanya.
"Iya Yas, om sayang kamu seperti om sayang ke anak om sendiri" Tambah Om Ardi.
Yasmin semakin berat untuk terus membuka matanya.
Bibirnya seakan sulit untuk berucap kembali.
Dengan sekuat tenaga Yasmin berusaha untuk berbicara.
"Ya-Yasmin sayang kalian" Ucap Yasmin terakhir kalinya, hingga ia benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya dan pergi meninggal dunia yg dianggapnya begitu kelam.

Bintang dan Bulan,
Dua hal yang saling melengkapi
Hanya saja mereka berbeda
Seperti aku dan kamu..
Tak akan dapat menjadi satu..

Ada saatnya bintang harus pergi,
Pergi Meninggalkan bulan dengan kehampaan
Dan bintang itu...
'Aku, Yasmin Diandra'

***

Hari ini Yasmin dimakamkan, linangan air mata sesaat menjulur begitu saja. Ketika semuanya sudah berakhir, Ya kisah Yasmin telah berakhir, Kisah gadis remaja yg mengharapkan Sebuah kebahagian, walau hanya sekejap.
Namun sayang, sepertinya takdir enggan untuk membiarkannya merasakan kebahagian. Hingga akhirnya kebahagian itu musnah dalam persekian detiknya.
Tapi ada 1 hal yg tak akan dapat musnah begitu saja yaitu 'Cinta'
Cinta yg Yasmin dapatkan dari sosok sahabatnya 'Reno Anggara'

Reno menatap miris dan mengusap batu nisan yg bertuliskan °Yasmin Diandra°
Reno tak pernah menyangka bahwa yang ada dalam tanah itu adalah sahabat yang sebenarnya telah menyusup ke dalam relung hatinya hingga gadis ini mampu membuat ruang pribadi di hati Reno.
Apa ia sanggup untuk melupakan semuanya?
Entahlah..
Hanya keajaiban yg mampu menjawab semuanya.

"Gue sayang lo Yas, slalu sayang lo, dan akan terus sayang lo, tenang disana yah, tunggu gue, hingga suatu saat gue akan datang menemui lo" Ucap Reno seraya mencium batu nisan itu.
Kemudian Reno pun melangkahkan kakinya yg terasa sangat berat dan pergi meninggalkan pemakaman.

Bahagia..
Satu kata yg setiap orang ingin merasakannya.
Meskipun hanya kebahagian yg sederhana,
Karena sebenarnya bahagia itu memang sederhana.
Sesederhana kita mencintai seseorang,
Hingga cinta itu merubahnya menjadi sempurna.

Tuhan..
Jika aku boleh meminta,
Beri aku secercah harapan
untuk menuju kebahagiaan
Karena 'Aku ingin Bahagia'

Komentar